Sabtu, 25 September 2010

SCL 3

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yang berkembang begitu pesat pada era globalisasi, membawa perubahan yang sangat radikal. Perubahan itu telah berdampak pada setiap aspek kehidupan, termasuk pada system pendidikan dan pembelajaran. Dampak dari perubahan yang luar biasa itu terbentuknya suatu ‘kumonitas global’, lebih parah lagi karena komunitas global itu ternyata tiba jauh lebih cepat dari yang diperhitungkan: revulusi informasi telah menghadirkan dunia baru yang benar-benar hyper-reality. Akibat dari perubahan yang begitu cepatnya, manusia tidak bias lagi hanya bergantung pada seperangkat nilai, keyakinan, dan pola aktivitas social yang konstan. Manusia dipaksa secara berkelanjutan untuk menilai kembali posisi sehubungan dengan factor-faktor tersebut dalam rangka membangu sebuah konstruksi social-personal yang memungkin atau yang tampaknya memungkinkan. Jika masyarakat mampu bertahan dalam menghadapi tantangan perubahan di dalam dunia pengetahuan, teknologi, komunikasi serta konstruksi social budaya ini, maka kita hasrus mengembangkan proses-proses baru untuk menghadapi masalah-masalah baru ini. Kita tidak dapat lagi bergantung pada jawaban-jawaban masa lalu karena jawaban-jawaban tersebut begitu cepatnya tidak berlaku seiring dengan perubahan yang terjadi. Pengetahuan, metode-metode, dan keterampilan-keterampilan menjadi suatu hal yang ketinggalan zaman hamper bersamaan dengan saat hal-hal ini memberikan hasilnya. (1)
Degeng menyatakan bahwa kita telah memasuki era kesemrawutan. Era yang datangnya begitu tiba-tiba dan tak seorang pun mampu menolaknya. Kita harus masuk di dalamnya dan diobok-obok. Era kesemrawutan tidak dapat dijawab dengan paradigma keteraturan, kepastian, dan ketertiban. Era kesemrawutan harus dijawab dengan paradigma kesemrawutan. Era kesemrawutan ini dilandasi oleh teori dan konsep konstruktivistik; suatu teori pembelajaran yang kini banyak dianut di kalangan pendidikan di AS. Unsure terpenting dalam konstruktivistik adalah kebebasan dan keberagaman. Kebebasan yang dimaksud ialah kebebasan untuk melakukan pilihan-pilihan sesuai dengan apa yang mampu dan mau dilakukan oleh si belajar. Keberagaman yang dimaksud adalah si belajar menyadari bahwa individunya berbeda dengan orang/kelompok lain, dan orang/kelompok lain berbeda dengan individunya. (2)

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang tertuang dalam latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Apa pengertian pembalajaran Student Centered Learning?
2. Apa keunggulan pembelajaran Student Centered Learning?

C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan dalam makalah ini adalah untuk mengetahui:
1. Apa pengertian pembalajaran Student Centered Learning.
2. Apa keunggulan pembelajaran Student Centered Learning.












BAB II
PEMBELAJARAN YANG BERPUSAT PADA SISWA
(STUDENT CENTERED LEARNING)

A. Pengertian Pembelajaran Student Centered Learning
Secara leksikal bahasa/teks bahasa, merunut dari susunan kata-kata dari Student Centered Learning dapat diartikan pembelajaran yang berpusat atau dipusatkan pada siswa.
Sedangkan menurut ahli, Student Centered Learning berarti menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran dan mengakui perbedaan potensi siswa adalah kesadaran dasar yang harus dipahami dalam memandang siswa sebagai input dalam pembelajaran. Guru dituntut untuk mengenali potensi akademik dan kepribadian siswa. Individual differences akan menentukan tingkat kecepatan siswa dalam merespon dan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Konsekuensi-nya, beberapa siswa akan belajar lebih cepat dan dapat mengambil program akselerasi/pengayaan atau bahkan mendapat kesempatan untuk loncat kelas. Siswa yang memerlukan waktu yang lebih banyak atau kurang mampu menyerap pelajaran berdasarkan standar kelas dipersilakan menjalani progran remedial untuk mengulang dan menguatkan pemahaman terhadap topik pelajaran yang kurang dikuasai. (3)
Maka dari pengertian di atas, dalam proses pembelajaran, seorang siswa haruslah lebih pandai dari pada guru. Segala kegiatan pembelajaran harus dipusatkan pada pengembangan pengetahuan siswa bukan sebaliknya hanya seorang guru saja yang menjadi model di depan kelas.

B. Keunggulan Student Centered Learning
Berdasarkan teori J. Peaget dan Vygotsky yang telah dikemukakan di atas maka pembelajaran dapat dirancang/didesain model pembelajaran Student Centered Learning di kelas sebagai berikut:
1. Pembelajaran berdasarkan pemusatan kepada siswa memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan bahasa siswa sendiri, berbagi gagasan dengan temannya, dan mendorong siswa memberikan penjelasan tentang gagasannya.
2. pembelajaran berdasarkan pemusatan kepada siswa memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa atau rancangan kegiatan disesuaikan dengan gagasan awal siswa agar siswa memperluas pengetahuan mereka tentang fenomena dan memiliki kesempatan untuk merangkai fenomena, sehingga siswa terdorong untuk membedakan dan memadukan gagasan tentang fenomena yang menantang siswa.
3. Pembelajaran berdasarkan pemusatan kepada siswa memberi siswa kesempatan untuk berpikir tentang pengalamannya. Ini dapat mendorong siswa berpikir kreatif, imajinatif, mendorong refleksi tentang model dan teori, mengenalkan gagasan-gagasanpada saat yang tepat.
4. pembelajaran berdasarkan pemusatan kepada siswa memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru agar siswa terdorong untuk memperoleh kepercayaan diri dengan menggunakan berbagai konteks, baik yang telah dikenal maupun yang baru dan akhirnya memotivasi siswa untuk menggunakan berbagai strategi belajar.
5. Pembelajaran berdasarkan pemusatan kepada siswa mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan merka setelah menyadari kemajuan mereka serta memberi kesempatan siswa untuk mengidentifikasi perubahan gagasan mereka.
6. Pembelajaran berdasarkan pemusatan kepada siswa memberikan lingkungan belajar yang kondusif yang mendukung siswa mengungkapkan gagasan, saling menyimak, dan menghindari kesan selalu ada satu jawaban yang benar. (4)

C. Kelemahan Student Centered Learning
Diantara kekurangan/kelemahan pembelajaran Student Centered Learning adalah:
1. Siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, tidak jarang bahwa hasil konstruksi siswa tidak cocok dengan hasil konstruksi para ilmuan sehingga menyebabkan miskonsepsi.
2. Pemusatan pembelajaran pada siswa menanamkan agar siswa membangun pengetahuannya sendiri, hal ini pasti membutuhkan waktu yang lama dan setiap siswa memerlukan penanganan yang berbeda-beda.
3. Situasi dan kondisi tiap sekolah tidak sama, karena tidak semua sekolah memiliki sarana prasarana yang dapat membantu keaktifan dan kreatifitas siswa. (5)













BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dalam sebuah tatanan kehidupan bermasyarakat tentu ada norma dan nilai yang mengaturnya bahkan nilai dan norma menjadi sebuah hal yang wajib ada untuk mengatur hubungan tersebut dengan maksud agar tidak terjadi perselisihan di dalam pelaksanaannya. Dalam masyrakat, nilai bertujuan untuk menganggap sesuatu hal, apakah sesuatu itu pantas atau tidak pantas, penting atau tidak penting, mulia ataukah hina. Sesuatu itu dapat berupa benda, orang, tindakan, pengalaman, dan seterusnya.
Sedangkan sebuah norma merupakan ukuran yang digunakan oleh masyarakat apakah tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang merupakan tindakan yang wajar dan dapat diterima karena sesuai dengan harapan sebagian besar warga masyarakat ataukah merupakan tindakan yang menyimpang karena tidak sesuai dengan harapan sebagian besar warga masyarakat. Berdasarkan uraian di atas maka untuk mengatasi beraneka ragam persoalan dalam pembelajaran yang semakin rumit, maka pembelajaran Teacher Centered Learning yang selama ini telah digunakan selama bertahun-tahun, tampaknya tidak mampu lagi menjawab semua persoalan pembelajaran, maka perlu mencari alternatif pembelajaran yang lebih mampu mengatasi semua persoalan pembelajaran yang ada, salah satunya adalah pembelajaran Student Centered Learning yang telah diuraikan. Pembelajaran ini menghargai perbedaan, menghargai keunikan invidu, menghargai keberagaman dalam menerima dan memaknai pengetahuan.

B. Saran
Dengan pembelajaran yang dipusatkan kepada siswa diharapkan mampu menjawab tantangan pendidikan saat sekarang ini sehingga siswa pada akhirnya mampu memberikan penyelesaikan persoalan yang dihadapi siswa pada masa globalisasi ini.
DAFTAR PUSTAKA

http://desi_na.student.fkip.uns.ac.id/2009/10/30/macam-macam-pendekatan/, diakses tanggal 26 September 2010.
http://hidayah-ilayya.blogspot.com/2009/10/mengembalikan-makna-pendidikan-dalam.html, diakses tanggal 26 September 2010.
http://pembelajaranguru.wordpress.com/2008/05/31/konstruktivisme-6-keunggulan-penggunaan-pandangan-konstruktivisme-dalam-pembelajaran/, diakses tanggal 26 September 2010.

FOOTNOTE
1 http://desi_na.student.fkip.uns.ac.id/2009/10/30/macam-macam-pendekatan/, diakses tanggal 26 September 2010.
2 Ibid.
3 http://hidayah-ilayya.blogspot.com/2009/10/mengembalikan-makna-pendidikan-dalam.html, diakses tanggal 26 September 2010.
4 http://pembelajaranguru.wordpress.com/2008/05/31/konstruktivisme-6-keunggulan-penggunaan-pandangan-konstruktivisme-dalam-pembelajaran/, diakses tanggal 26 September 2010.
5 ibid

SCL 2

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Belajar mengajar melibatkan interaksi guru dan murid. Ada dua tipe sistem pengajaran, yakni pengajaran yang berpusat pada guru (teacher centered learning) dan pengajaran yang berpusat pada murid (student centered learnimg). Sistem pengajaran yang menempatkan siswa sebagai pusat pembe-lajaran menuntut peran dan partisipasi yang tinggi dari siswa. (1) Berkaitan dengan proses pembelajaran, Mulyasa menyarankan perlunya pengupayaan lingkungan belajar yang kondusif dengan metode dan media yang bervariasi. (2)
Dalam proses pembelajaran di kelas, kurikulum pelajaran perlu disesuaikan dengan konteks yang relevan dengan dunia siswa. Guru dituntut untuk kreatif memodifikasi atau menyampaikan kurikulum dalam strategi pengajarannya. Berbagai media dan metode dapat digunakan untuk mendekatkan materi pelajaran (misalnya pelajaran muatan lokal) dengan dunia sehari-hari siswa, dengan tujuan melatih life skill dan life competency siswa. Guru dapat membuat kurikulum atau satuan pelajaran dengan penekanan pada pengintegrasian beberapa mata pelajaran dalam satu sajian/ tatap muka. Dua bentuk tipe kurikulum yang sesuai dengan pendekatan ini adalah correlated curriculum (menghubungkan antar bidang ilmu dengan tetap memperhatikan karakteristik masing-masing ilmu) dan integrated curriculum (pelajaran dipusatkan pada satu masalah atau topik tertentu dengan melibatkan berbagai pendekatan disiplin ilmu yang berlainan). (3)
Berkaitan dengan media yang digunakan dalam pelajaran, Mamat, dkk mencontohkan satuan pelajaran yang memuat beberapa media pembelajaran. Dalam pelajaran fiqih, dengan materi pokok mengenai kewajiban memelihara dan mengelola lingkungan hidup, digunakan media VCD tentang Tanda-tanda Hari Kiamat (kejadian gunung meletus), lembar permasalahan, lembar obser-vasi, gambar-gambar yang berkaitan dengan gunung meletus, dan kertas karton. (4)

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang tertuang dalam latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Apa pengertian pembalajaran Student Centered Learning?
2. Bagaimana rancangan pembelajaran Student Centered Learning?

C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan dalam makalah ini adalah untuk mengetahui:
1. Apa pengertian pembalajaran Student Centered Learning.
2. Bagaimana rancangan pembelajaran Student Centered Learning.



















BAB II
PEMBELAJARAN YANG BERPUSAT PADA SISWA
(STUDENT CENTERED LEARNING)

A. Pengertian Pembelajaran Student Centered Learning
Siswa sebagai subjek dan pusat pembelajaran (Student Centered Learning) berarti menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran dan mengakui perbedaan potensi siswa adalah kesadaran dasar yang harus dipahami dalam memandang siswa sebagai input dalam pembelajaran. Guru dituntut untuk mengenali potensi akademik dan kepribadian siswa. Individual differences akan menentukan tingkat kecepatan siswa dalam merespon dan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Konsekuensi-nya, beberapa siswa akan belajar lebih cepat dan dapat mengambil program akselerasi/pengayaan atau bahkan mendapat kesempatan untuk loncat kelas. Siswa yang memerlukan waktu yang lebih banyak atau kurang mampu menyerap pelajaran berdasarkan standar kelas dipersilakan menjalani progran remedial untuk mengulang dan menguatkan pemahaman terhadap topik pelajaran yang kurang dikuasai. (5)
Yang terpenting dalam pembelajaran adalah bahwa dalam proses pembelajaran, si belajarlah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pembelajar atau orang lain. Mereka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan belajar siswa secara aktif ini perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa. (6)
Untuk mengakomodasi minat yang berbeda, guru dapat melakukan grouping berdasarkan area atau mata pelajaran/ilmu tertentu. Pembelajaran tematik juga dapat disajikan untuk menampung minat siswa agar kurikulum lebih dapat dikembangkan dan lebih dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Berikut definisi tentang pembelajaran tematik: “Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran terpadu, dengan mengelola pembelajaran yang mengintegrasikan materi dari beberapa mata pelajaran dalam satu topik pembicaraan yang disebut tema”. Belajar lebih diarahkan pada experimental learning yaitu merupakan adaptasi kemanusiaan berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium, diskusi dengan teman sekelas, yang kemudian dikontemplasikan dan dijadikan ide dan pengembangan konsep baru. Karenanya aksentuasi dari mendidik dan mengajar tidak terfokus pada si pendidik melainkan pada pebelajar. (7)

B. Rancangan Pembelajaran Student Centered Learning
Berdasarkan teori J. Peaget dan Vygotsky yang telah dikemukakan di atas maka pembelajaran dapat dirancang/didesain model pembelajaran Student Centered Learning di kelas sebagai berikut:
Pertama, identifikasi prior knowledge dan miskonsepsi. Identifikasi awal terhadap gagasan intuitif yang mereka miliki terhadap lingkungannya dijaring untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan akan munculnya miskonsepsi yang menghinggapi struktur kognitif siswa. Identifikasi ini dilakukan dengan tes awal, interview.
Kedua, penyusunan program pembelajaran. Program pembelajaran dijabarkan dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
Ketiga orientasi dan elicitasi, situasi pembelajaran yang kondusif dan mengasyikkan sangatlah perlu diciptakan pada awal-awal pembelajaran untuk membangkitkan minat mereka terhadap topic yang akan dibahas. Siswa dituntun agar mereka mau mengemukakan gagasan intuitifnya sebanyak mungkin tentang gejala-gejala fisika yang mereka amati dalam lingkungan hidupnya sehari-hari. Mengungkapan gagasan tersebut dapat memalui diskusi, menulis, ilustrasi gambar dan sebagainya. Gagasan-gagasan tersebut kemudian dipertimbangkan bersama. Suasana pembelajaran dibuat santai dan tidak menakutkan agar siswa tidak khawatir dicemooh dan ditertawakan bila gagasan-gagasannya salah. Guru harus menahan diri untuk tidak menghakiminya. Kebenaran akan gagasan siswa akan terjawab dan terungkap dengan sendirinya melalui penalarannya dalam tahap konflik kognitif
Keempat, refleksi. Dalam tahap ini, berbagai macam gagasan-gagasan yang bersifat miskonsepsi yang muncul pada tahap orientasi dan elicitasi direflesikan dengan miskonsepsi yang telah dijaring pada tahap awal. Miskonsepsi ini diklasifikasi berdasarkan tingkat kesalahan dan kekonsistenannya untuk memudahkan merestrukturisasikannya.
Kelima, resrtukturisasi ide, (a) tantangan, siswa diberikan pertanyaan-pertanyaan tentang gejala-gejala yang kemudian dapat diperagakan atau diselidiki dalam praktikum. Mereka diminta untuk meramalkan hasil percobaan dan memberikan alas an untuk mendukung ramalannya itu. (b) konflik kognitif dan diskusi kelas. Siswa akan daapt melihat sendiri apakah ramalan mereka benar atau salah. Mereka didorong untuk menguji keyakinan dengan melakukan percobaan. Bila ramalan mereka meleset, mereka akan mengalami konflik kognitif dan mulai tidak puas dengan gagasan mereka. Kemudian mereka didorong untuk memikirkan penjelasan paling sederhana yang dapat menerangkan sebanyak mungkin gejala yang telah mereka lihat. Usaha untuk mencari penjelasan ini dilakukan dengan proses konfrontasi melalui diskusi dengan teman atau guru yang pada kapasistasnya sebagai fasilitator dan mediator. (c) membangun ulang kerangka konseptual. Siswa dituntun untuk menemukan sendiri bahwa konsep-konsep yang baru itu memiliki konsistensi internal. Menunjukkan bahwa konsep ilmiah yang baru itu memiliki keunggulan dari gagasan yang lama.
Keenam, aplikasi. Menyakinkan siswa akan manfaat untuk beralih konsepsi dari miskonsepsi menuju konsepsi ilmiah. Menganjurkan mereka untuk menerapkan konsep ilmiahnya tersebut dalam berbagai macam situasi untuk memecahkan masalah yang instruktif dan kemudia menguji penyelesaian secara empiris. Mereka akan mampu membandingkan secara eksplisit miskonsepsi mereka dengan penjelasa secara keilmuan.
Ketujuh, review dilakukan untuk meninjau keberhasilan strategi pembelajaran yang telah berlangsung dalam upaya mereduksi miskonsepsi yang muncul pada awal pembelajaran. Revisi terhadap strategi pembelajaran dilakukan bila miskonsepsi yang muncul kembali bersifat sangar resisten. Hal ini penting dilakukan agar miskonsepsi yang resisten tersebut tidak selamanya menghinggapi struktur kognitif, yang pada akhirnya akan bermuara pada kesulitan belajar dan rendahnya prestasi siswa bersangkutan. (8)























BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas maka untuk mengatasi beraneka ragam persoalan dalam pembelajaran yang semakin rumit, maka pembelajaran Teacher Centered Learning yang selama ini telah digunakan selama bertahun-tahun, tampaknya tidak mampu lagi menjawab semua persoalan pembelajaran, maka perlu mencari alternatif pembelajaran yang lebih mampu mengatasi semua persoalan pembelajaran yang ada, salah satunya adalah pembelajaran Student Centered Learning yang telah diuraikan. Pembelajaran ini menghargai perbedaan, menghargai keunikan invidu, menghargai keberagaman dalam menerima dan memaknai pengetahuan.

B. Saran
Dengan pembelajaran yang dipusatkan kepada siswa diharapkan mampu menjawab tantangan pendidikan saat sekarang ini sehingga siswa pada akhirnya mampu memberikan penyelesaikan persoalan yang dihadapi siswa pada masa globalisasi ini.












DAFTAR PUSTAKA

E. Mulyasa, (2004), Implementasi Kurikulum 2004. Panduan Pembelajaran KBK. Bandung: Remaja Rosdakarya.
http://hidayah-ilayya.blogspot.com/2009/10/mengembalikan-makna-pendidikan-dalam.html, diakses tanggal 26 September 2010.
http://mutiara.student.fkip.uns.ac.id/, diakses tanggal 26 September 2010.
Mamat, dkk. (2005), Pedoman Pelaksanaan Pembelajaran Tematik, (Jakarta: Departemen Agama. Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam.
Nurdin, S. (2005), Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum. Jakarta: Quantum teaching.
R. Situmorang, (2004), Strategi Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences untuk Pencapaian Kompetensi dalam Pembelajaran. Mozaik Teknologi Pendidikan. Jakarta: UNJ dan Kencana.



FOOTNOTE
1 Nurdin, S. Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum. (Jakarta: Quantum teaching. 2005), hal. 32.
2 E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum 2004. Panduan Pembelajaran KBK. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hal. 21.
3 Nurdin, S. loc.cit.
4 Mamat, dkk. Pedoman Pelaksanaan Pembelajaran Tematik, (Jakarta: Departemen Agama. Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2005), hal. 74.
5 http://hidayah-ilayya.blogspot.com/2009/10/mengembalikan-makna-pendidikan-dalam.html, diakses tanggal 26 September 2010.
6 Ibid.
7 R. Situmorang, Strategi Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences untuk Pencapaian Kompetensi dalam Pembelajaran. Mozaik Teknologi Pendidikan. (Jakarta: UNJ dan Kencana, 2004), hal. 231.
8 http://mutiara.student.fkip.uns.ac.id/, diakses tanggal 26 September 2010.

SCL 1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu penyebab rendahnya mutu sumber daya manusia Indonesia terletak pada kegagalan pendidikan dalam mengemban amanahnya, yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan di Indonesia yang cenderung mengikuti tuntutan dunia industri-kapitalis ternyata membawa banyak permasalahan baru. Dunia pendidikan Indonesia perlu melakukan redefinisi dan reorientasi dalam mengembalikan makna, fungsi dan tujuan pendidikan yang sebenarnya. Salah satu pendekatan yang perlu ditinjau ulang adalah mengenai siswa sebagai subjek pembelajar. Mengenali, memahami dan menyentuh setiap aspek/potensi siswa adalah kunci keberhasilan proses belajar-mengajar. Konsekuensi logisnya, guru/pendidik harus menyadari adanya individual differences pada siswa. Dari sini, guru/pendidik dapat mengimplementasikan metode dan kurikulum serta media dan instrumen pendidikan yang menunjang optimalisasi potensi siswa. Dengan demikian, diharapkan guru dapat membantu memfasilitasi dan mengoptimalkan potensi siswa selama proses belajar-mengajar. (1)
Seseorang atau masyarakat dengan kapasitas dan kualitas berpikir global, mampu berperan dan menciptakan kemasalahatan bagi lingkungannya merupakan bagian dari visi reformasi. Hal ini secara eksplisit tertuang dalam visi mikro dan makro pendidikan nasional: “Terwujudnya individu manusia baru (masyarakat Indonesia baru) yang memiliki sikap dan wawasan keimanan dan akhlak yang tinggi, kemerdekaan dan demokrasi, toleransi dan menjunjung hak asasi manusia, serta berpengertian dan berwawasan global”. (2)
Dari hal tersebut maka perlu adanya sebuah inovasi dan perubahan dalam system pembelajaran pada sekolah-sekolah yang awalnya kebanyakan menggunakan prinsip teacher centre learning (guru sebagai pusat) beralih ke dalam pembelajaran yang berpusat pada siswa (Student Centered Learning)

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang tertuang dalam latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Apa pengertian pembalajaran Student Centered Learning?
2. Apa saja prinsip dalam pembelajaran Student Centered Learning?

C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan dalam makalah ini adalah untuk mengetahui:
1. Apa pengertian pembalajaran Student Centered Learning.
2. Apa saja prinsip dalam pembelajaran Student Centered Learning.

















BAB II
STUDENT CENTERED LEARNING
(PEMBELAJARAN YANG DIPUSATKAN KEPADA SISWA)

A. Pengertian Pembelajaran Student Centered Learning
Terkait dengan mutu SDM, Tilaar (2000) menyarankan bentuk pendidikan pemberdayaan. “…pendidikan pemberdayaan yaitu yang bertujuan memberdayakan setiap anggota masyarakat untuk dapat berprestaasi setinggi-tingginya sesuai dengan kemampuan yang telah dikembangkan didalam diri sendiri”. Dari sudat pandang lain, kualitas pendidikan dapat ditingkatkan melalui “adanya perubahan sosial yang memberi arah bahwa pendidikan merupakan pendekatan dasar dalam proses perubahan”. (3)
Siswa sebagai subjek dan pusat pembelajaran (Student Centered Learning) berarti menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran dan mengakui perbedaan potensi siswa adalah kesadaran dasar yang harus dipahami dalam memandang siswa sebagai input dalam pembelajaran. Guru dituntut untuk mengenali potensi akademik dan kepribadian siswa. Individual differences akan menentukan tingkat kecepatan siswa dalam merespon dan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Konsekuensi-nya, beberapa siswa akan belajar lebih cepat dan dapat mengambil program akselerasi/pengayaan atau bahkan mendapat kesempatan untuk loncat kelas. Siswa yang memerlukan waktu yang lebih banyak atau kurang mampu menyerap pelajaran berdasarkan standar kelas dipersilakan menjalani progran remedial untuk mengulang dan menguatkan pemahaman terhadap topik pelajaran yang kurang dikuasai. (4)
Untuk mengakomodasi minat yang berbeda, guru dapat melakukan grouping berdasarkan area atau mata pelajaran/ilmu tertentu. Pembelajaran tematik juga dapat disajikan untuk menampung minat siswa agar kurikulum lebih dapat dikembangkan dan lebih dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Berikut definisi tentang pembelajaran tematik: “Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran terpadu, dengan mengelola pembelajaran yang mengintegrasikan materi dari beberapa mata pelajaran dalam satu topik pembicaraan yang disebut tema”. (5)

B. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Student Centered Learning
Pembelajaran Student Centered Learning mempunyai beberapa konsep umum/prinsip-prinsip umum seperti:
a. Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada.
b. Dalam konteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka.
c. Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling mempengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru.
d. Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada.
e. Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuan ilmiah.
f. Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai keterkaitan dengan pengalaman pelajar untuk menarik minat pelajar.
g. Tujuan dari proses pembelajaran adalah mendidik dan membekali siswa dengan seperangkat pengetahuan, sikap, nilai, moral dan keterampilan untuk memahami lingkungan sosial masyarakat dapat dicapai. Hal ini juga dapat menjadikan pembelajaran Sosial lebih menarik, penuh tantangan dan semangat dalam mempelajarinya. Oleh karena itu lebih tepat, kalau anak didik dipandang sebagai subyek dalam proses belajar. (6)
Model pembelajaran yang dilakukan dapat mencoba menggabungkan antara strategi mengajar bentuk dan dinamika proses demokrasi dengan proses inkuiri akademik. Proses pembelajaran yang berupa pengetahuan sosial berorientasi terhadap pemecahan masalah. Jadi, siswa dapat berdiskusi dalam mencari makna agar dapat mengkonstruksi pengetahuan melalui interaksi sosial dengan orang lain.
Sehingga timbul harapan adanya pengembangan potensi siswa secara optimal untuk belajar mandiri serta belajar bersama untuk mencapai tujuan bersama. Dalam wawasan ini guru secara fleksibel menempatkan diri agar siswa menjadi semangat dalam pembelajaran. Pada saat-saat tertentu guru membiarkan anak mengeksplorasi dan bereksperimen sendiri dengan lingkungannya. Maka proses yang terjadi akan beragam sesuai dengan konteks kulturalnya.
Pembelajaran ini sebenarnya bukan merupakan sebuah pembelajaran yang asing bagi persepektif pendidikan di Indonesia. Ki Hajar Dewantoro, seorang tokoh pendidikan nasional, sudah lama memperkenalkan pendekatan pendidikan yang diungkapkan melalui tiga prinsip utama peran pendidik, yaitu; ‘ing ngarso sung tulodo’ (bila berada di depan anak didik, beri contoh tauladan), ‘ing madyo mbangun karso’(bila berada di tengah-tengah siswa, bangunkan keinginan anak untuk belajar), dan tut wuri handayani (bila dibelakang anak didik, beri dorongan semangat). Tujuan dapat membatasi ruang gerak usaha, agar kegiatan dapat terfokus dalam memberikan penilaian atau evaluasi pada usaha-usaha pendidikan. (7)
Dalam hal ini melalui pendekatan juga merupakan usaha yang penting.Pendekatan kontruktivis sosial untuk pengajaran menekankan pada konteks sosial dari pembelajaran dan bahwa pengetahuan itu dibangun dan dikontribusi secara bersama (mutual).Keterlibatan dengan orang lain membuka kesempatan bagi murid untuk mengevaluasi dan memperbaiki pemahamaan mereka saat mereka bertemu dengan pemikiran orang lain dan saat mereka berpartisipasi dalam pencarian pemahaman bersama. Dengan cara ini, pengalaman dalam konteks sosial memberikan mekanisme penting untuk perkembangan pemikiran murid. Ada pergeseran konseptual dari individual ke kolaborasi, interaksi sosial dan aktivitas sosiokultural. Murid mengkonstruksi pengetahuan melalui interaksi sosial dengan orang lain. Isi dari pengetahuan ini dipengaruhi oleh kultur di mana murid tinggal, yang mencakup bahasa, keyakinan, dan keahlian /ketrampilan. Dalam salah satu analisis terhadap pendekatan konstruktivis sosial, guru dikatakan tertarik untuk melihat pembelajaran melalui tatapan mata murid. (8)

















BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Tantangan berat yang harus dihadapi dunia pendidikan Indonesia, menuntut upaya pembenahan yang serius dan menyeluruh dalam setiap aspeknya. Redefinisi makna dan tujuan pendidikan haruslah disadari sebagai langkah awal perbaikan sistem pendidikan, bersama semua bagian yang terlibat didalamnya. Agar SDM Indonesia dapat bersaing dan mampu berdiri sejajar dengan masyarakat dunia luar, penguasaan atas teknologi dan informasi mutlak diperlukan. Tidak kalah penting dari itu adalah aspek kepribadian bangsa. Pendidikan demi meningkatkan kualitas keahlian dan pengetahuan dan dari sisi kemanusiaan manusia (Educated and Civilized Human Being).
Satu hal penting yang berkaitan dengan proses belajar disekolah ialah mengubah sudut pandang terhadap siswa. Siswa, dengan segala potensi dan aspek kepribadianya, adalah subjek yang memiliki kemampuan dan kualitas yang unik. Pengakuan dan pemahaman atas beragamnya bentuk kecerdasan, pandangan yang seimbang terhadap potensi akademik (kecerdasan, bakat dan kreativitas) dengan kualitas lain pada siswa adalah hal mendasar yang perlu disadari dan dijadikan pijakan dalam mengajar siswa di sekolah.

B. Saran
Sebagai ujung tombak, tugas gurulah untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat pada siswa (Student Centered Learning) dalam proses belajar-mengajar. Diharapkan dengan memahami potensi unik siswa, menerapkan kurikulum dengan sistem evaluasi yang didasarkan kompetensi dan tidak lepas dari konteks hidup, visi dan misi pendidikan di Indonesia dapat dicapai.




DAFTAR PUSTAKA

E. Mulyasa, (2004), Implementasi Kurikulum 2004. Panduan Pembelajaran KBK. Bandung: Remaja Rosdakarya.
http://hidayah-ilayya.blogspot.com/2009/10/mengembalikan-makna-pendidikan-dalam.html, diakses tanggal 26 September 2010.
http://pakmargolang.com/article/28062/pendekatan-konstruktivis-sosial-menyenangkan--dan-tanpa-tekanan-dalam-pembelajaran.html, diakses tanggal 26 September 2010.
Mamat, dkk. (2005), Pedoman Pelaksanaan Pembelajaran Tematik, (Jakarta: Departemen Agama. Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam.
Tilaar, H. A. R.(2000). Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta.
Warul Walidin, (2003), Konstelasi Pemikiran Pedagogok Ibnu Khaldun Perspektif Pendidikan Modern, Yogyakarta : Nadiya Foundation.


foonote
1 http://hidayah-ilayya.blogspot.com/2009/10/mengembalikan-makna-pendidikan-dalam.html, diakses tanggal 26 September 2010.
2 E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum 2004. Panduan Pembelajaran KBK. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hal. 19.
3 Tilaar, H. A. R.. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. (Jakarta: Rineka Cipta. 2000). hal. 34.
4 http://hidayah-ilayya.blogspot.com/2009/10/mengembalikan-makna-pendidikan-dalam.html, loc.cit.
5 Mamat, dkk. Pedoman Pelaksanaan Pembelajaran Tematik, (Jakarta: Departemen Agama. Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2005), hal. 21-22.
6 Warul Walidin, Konstelasi Pemikiran Pedagogok Ibnu Khaldun Perspektif Pendidikan Modern, ( Yogyakarta : Nadiya Foundation, 2003), hal. 240.
7 Ibid. hal. 241.
8 http://pakmargolang.com/article/28062/pendekatan-konstruktivis-sosial-menyenangkan--dan-tanpa-tekanan-dalam-pembelajaran.html, diakses tanggal 26 September 2010.

Minggu, 11 Juli 2010

TEKNIK PENULISAN PROPOSAL DAN SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan




OLEH :
KELOMPOK V

Mursit
Nur Aini
Nurmailis

Prodi : S1 PGMI
Lokal : B
Semester : VI


DOSEN PENGAMPU :
ANASRUL, S.Pd.,M.PFis

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
STAI AULIAURRASYIDIN TEMBILAHAN
2010
KATA PENGANTAR
   

Alhamdulillah, kami ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan makalah yang berjudul Teknik Penulisan Proposal dan Skripsi.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah banyak memberikan bantuan baik secara moril maupun secara materiil demi terselesaikannya penulisan makalah ini, semoga mendapatkan ganjaran pahala dari Allah SWT.
Kami menyadari dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun tentunya sangat kami harapkan terlebih dari dosen pembimbing Mata Kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan demi sempurnanya penulisan pada masa yang akan datang. Akhirnya, kami berharap semoga karya ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Amiiin.



Tembilahan, Juli 2010



Kelompok V




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan Penulisan 2

BAB II : PEMBAHASAN
A. Pengertian Proposal dan Skripsi 3
B. Komponen-Komponen Proposal dan Skripsi 4
C. Teknik Penulisan Proposal dan Skripsi 16

BAB III : PENUTUP
A. Kesimpulan 37
B. Saran 38

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menempuh pendidikan di jenjang Perguruan
Tinggi merupakan serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan kegiatan akademik. Dalam keseharian, biasanya dosen memberikan tugas kepada mahasiswa berupa penulisan makalah, baik secara mandiri maupun secara berkelompok. Biasanya, makalah kelompok akan dipresentasikan kepada rekan-rekan dalam satu lokal.
Setelah menempuh perkuliah selama beberapa semester (minimal enam semester), dan sejumlah Satuan Kredit Semester (SKS) yang telah ditentukan oleh Perguruan Tinggi, (minimal 75 % dari seluruh SKS yang harus ditempuh), maka mahasiswa boleh mengajukan judul penelitian. Penelitian tersebut merupakan tugas akhir dan untuk memperoleh gelar sarjana pada program studi yang ditempuh. Hasil penelitian akan dituliskan ke dalam sebuah skripsi. Penulisan skripsi tersebut hendaklah mengacu kepada tata cara penulisan karya ilmiah. Berikut ini akan dijelaskan mengenai Teknik Penulisan Proposal dan Skripsi.

B. Rumusan Masalah
Dari uraian di atas, dapat penulis rumuskan suatu rumusan masalah sebagai berikut:
1. apa definisi proposal dan skripsi?
2. apa saja komponen proposal dan skripsi?
3. bagaimana teknik penulisan proposal dan skripsi?

c. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini di antaranya adalah:
1. untuk memenuhi tugas kelompok Mata Kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan.
2. sebagai wadah untuk mengembangkan wawasan mahasiswa.
3. sebagai rujukan bagi pembaca yang akan melakukan penulisan karya ilmiah.
4. sebagai sumbangan pemikiran dalam bidang penulisan karya ilmiah.


















BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Proposal dan Skripsi
sebelum penulis menjabarkan mengenai teknik penulisan proposal dan skripsi, ada baiknya terlebih dahulu penulis jabarkan mengenai definisi proposal dan skripsi itu sendiri agar para pembaca dapat memahami isi karya ilmiah ini. menurut Prof. Dr. H. E. Mulyasa, M.Pd, “proposal merupakan jalan pikiran tertulis dan masih merupakan rancangan kegiatan penelitian yang bersifat tentatif.” Proposal penelitian sering juga dinamakan rancangan penelitian yang akan berfungsi sebagai pedoman untuk peneliti. Adapun keuntungan penyusunan proposal penelitian di antaranya adalah:
1. Bagi guru atau peneliti, proposal dapat dijadikan sebagai panduan dalam melaksanakan proses penelitian, sebab segala sesuatu yang harus dipersiapkan dan dilaksanakan sudah tergambar dalam proposal penelitian.
2. Bagi sponsor atau pembimbing, proposal dapat memberikan gambaran kemungkinan yang harus diberikan kepada para peneliti yang dibimbingnya.
Sedangkan definisi skripsi, menurut Ndraha(1988):
‘skripsi merupakan laporan pekerjaan lapangan dan membaca buku-buku dalam rangka membentuk konsep baru yang meliputi fakta serta mengembangkan hipotesis antara variabel-variabel yang dijabarkan konsep tersebut’. Menurut Drs. Cik Hasan Bisri, “Skripsi merupakan karya tulis ilmiah yang disusun berdasarkan hasil penelitian, di perpustakaan atau di lapangan atau di laboratorium.”

Tugas penulisan skripsi merupakan salah satu syarat bagi mereka yang akan mencapai gelar akademik dalam salah satu bidang ilmu yang menjadi keahliannya dalam program studi yang dipilihnya. Dalam lingkungan IAIN, STAIN dan PTAIS, penulisan skripsi menjadi salah satu tugas mahasiswa program S1 yang dihargai sebesar 6 (enam) Satuan Kredit Semester (SKS) dalam salah satu bidang ilmu Agama Islam.
Setelah memahami definisi Proposal dan skripsi, berikut akan penulis jabarkan mengenai komponen-komponen atau bagian-bagian yang terdapat di dalam sebuah proposal dan skripsi.


B. Komponen-Komponen Proposal dan Skripsi
1. Komponen-Komponen Proposal
a. Halaman Muka (cover)
Pada bagian halaman muka terdiri atas kata PROPOSAL, judul yang diajukan, lambang atau logo perguruan tinggi yang bersangkutan, nama mahasiswa yang mengajukan proposal disertai dengan nomor induk, kemudian kalimat SKRIPSI DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI…. Penulisan semua unsur yang ada di dalam cover diketik dengan huruf kapital.
b. Judul
Judul diketik dengan huruf kapital dan diletakkan paling atas halaman.
c. Latar Belakang Masalah
Berisi tentang titik tolak peneliti melakukan penelitian terhadap judul yang diajukan.
d. Alasan Memilih Judul
Berisi tentang alasan-alasan peneliti mengangkat judul yang akan diteliti.
e. Penegasan Istilah
Penegasan istilah bertujuan untuk menghindari kesalahpahaman pembaca dalam memahami istilah-istilah yang terdapat dalam judul yang peneliti teliti.
f. Permasalahan
Berisi tentang penjabaran mengenai masalah-masalah yang akan diteliti dan dipecahkan oleh peneliti.
g. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Berisi tentang tujuan dan manfaat yang akan dicapai oleh peneliti dengan adanya penelitian yang dilakukannya.
h. Kerangka Teoritis
Merupakan teori-teori yang dijadikan landasan berpikir oleh peneliti.

i. Konsep Operasional
Berisi tentang indikator-indikator atau situasi-situasi yang diharapkan oleh penulis selama penelitian berlangsung.
j. Metode Penelitian
Berisi tentang lokasi dan waktu penelitian, subjek dan objek penelitian, keterangan mengenai populasi dan sampel, teknik pengumpulan data serta teknik analisa data.
k. Sistematika Penulisan
Memuat tentang sistematika penulisan dari awal hingga bagian akhir proposal, yang mencantumkan bagian-bagian tulisan perbabnya.
l. Daftar Pustaka
Berisi daftar rujukan yang digunakan oleh peneliti dalam menyusun proposal tersebut.

2. Komponen-Komponen Skripsi
Secara garis besar, skripsi terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian muka (suplemen awal), bagian utama (naskah skripsi) dan bagian belakang(suplemen akhir). Ketiga bagian tersebut akan dijelaskan pada bagian berikut:
a. Bagian Muka (Suplemen Awal)
Pada umumnya bagian muka skripsi sekurang-kurangnya terdiri atas judul, kata pengantar dan daftar isi. Sedangkan secara lengkap, ia terdiri dari sampul (Cover), ikhtisar atau abstrak (abstact), halaman judul (litle page), persetujuan, pengesahan, riwayat hidup, ucapan terima kasih, persembahan, kata pengantar dan daftar isi. Di samping itu dilengkapi dengan daftar tabel, daftar gambar dan daftar singkatan (CF. Turabian, 1987: 1).
1. Sampul atau Kulit Muka
Urutan tulisan dalam sampul atau kulit muka adalah:
a. Judul skripsi
b. Tulisan SKRIPSI (ditulis dengan huruf Times New Roman: SKRIPSI atau ditulis dengan huruf Currier New: SKRIPSI dengan menggunakan huruf kapital).
c. Kalimat Diajukan sebagai Salah Satu Syarat... dan seterusnya.
d. Nama penulis skripsi disertai nomor pokok yang bersangkutan.
e. Tempat penulisan, dalam hal ini kota domisili perguruan tinggi.
f. Tahun penulisan, yaitu Tahun Miladiah (Masehi) dan Tahun Hijriyah.
Contoh bagian judul skripsi sesuai ketentuan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI)Auliaurrasyidin Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir dapat dilihat pada bagian lampiran.
2. Abstrak, Ikhtisar dan Ringkasan
Abstrak atau ikhtisar dan ringkasan mencerminkan seluruh isi karya tulis ilmiah. Ia mencakup seluruh unsur utama di dalam karya tulis itu, yang ditempatkan pada bagian muka. Menurut Didi Atmadilaga (1989) dari segi pengertian,
’abstrak adalah sama dengan ringkasan atau summary. Tetapi dari segi penggunaan dan penempatannya terdapat perbedaan. Dalam karya tulis ilmiah lazim dipilih salah satu di antara keduanya, abstrak atau ringkasan. Apabila sudah dibuat abstrak maka tidak diperlukan ringkasan. Abstrak ditempatkan pada bagian muka, sedangkan ringkasan ditempatkan setelah kesimpulan atau pada bagian belakang.’
Contoh abstrak dapat dilihat pada bagian lampiran.
Bagian-bagian ringkasan pada dasarnya sama dengan abstrak atau ikhtisar, namun isi ringkasan lebih rinci sehingga dapat ditulis antara 6-10 halaman spasi ganda. Sedangkan ikhtisar (intisari) ditempatkan di antara sampul dengan halaman judul, tanpa diberi urutan dan nomor halaman. Ikhtisar dibuat dalam satu halaman penuh dengan jarak ketikan satu spasi, kecuali antara kata Ikhtisar dengan judul dan antara judul dengan isi naskah ikhtisar, berjarak dua spasi.

3. Halaman Judul (Title page)
Tulisan pada halaman judul hampir sama dengan yang tertera di halaman sampul. Ia terdiri dari empat bagian, yaitu:
1.Judul
2.Nama penulis skripsi dan nomor pokok yang bersangkutan.
3.Nama fakultas dalam lingkungan perguruan tinggi.
3.Nama fakultas dalam lingkungan perguruan tinggi.
4.Tempat dan waktu penulisan skripsi.

4. Persetujuan
Dalam halaman persetujuan ditulis judu dan nama penulis skripsi, nama pembimbing, nama ketua jurusan dan dekan. Lembaran persetujuan diletakkan pada halaman ii, setelah halaman judul.

5. Pengesahan
Halaman Pengesahan berisi pernyataan bahwa skripsi itu telah dipertanggungjawabkan dalam sidang ujian munaqasyah. Ia terdiri atas kata Pengesahan, pernyataan pengesahan yang di dalamnya meliputi judul skripsi, tanggal sidang ujian munaqasyah, dan nama-nama pimpinan sidang dan para penguji dalam munaqasyah itu. Dalam pernyataan pengesahan disebutkan pula kedudukan skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar akademik, nama jurusan (program studi) dan fakultas tempat belajar penulis skripsi. Tanggal sidang dilengkapi dengan nama bulan dan tahun. Contoh halaman pengesahan dapat dilihat pada bagian lampiran.

6. Riwayat Hidup
Riwayat hidup penulis skripsi cukup ditulis dalam satu halaman. Di dalamnya ditulis mengenai tempat dan waktu dilahirkan, nama kedua orang tua, riwayat pendidikan sampai mencapai gelar akademik. Pengalaman kerja secara singkat dapat dimasukkan di dalam riwayat hidup apabila mahasiswa yang bersangkutan memiliki pengalaman tersebut. Rincian tentang Riwayat Hidup ditempatkan pada halaman iv. Contoh penulisan Riwayat Hidup dapat dilihat pada bagian lampiran.

7. Ucapan Terima Kasih
Ucapan terima kasih biasanya ditempatkan dalam Kata Pengantar. Ia hanya ditujukan kepada orang-orang yang secara langsung berhubungan dengan kegiatan penelitian dan penulisan skripsi. Mereka adalah para pembimbing dan orang-orang yang dipandang berjasa dalam proses penelitian dan penulisan skripsi. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada kerabat dan teman dekat yang memberi bantuan dan kemudahan dalam pelaksanaan penelitian dan penulisan skripsi. Misalnya suami atau istri, atau teman seasrama. Kata Pengantar ditempatkan di halaman v , dengan contoh dapat dilihat pada bagian lampiran.

8. Daftar Isi
Daftar isi mencerminkan seluruh isi skripsi secara rinci, yang meliputi bagian muka, bagian utama dan bagian belakang. Daftar isi memberikan kerangka menyeluruh dan analitis tentang isi skripsi, yang sekaligus menginformasikan letak bagian-bagian isi skripsi tersebut dengan menunjukkan nomor halaman masing-masing. Dari daftar isi ini juga, dapat diketahui tentang unsur-unsur informasi dan unsur-unsur metodologi yang digunakan. Di dalam lampiran dapat pembaca lihat contoh daftar isi.

9. Daftar Tabel
Di dalam daftar tabel dicantumkan nomor tabel, teks isi tabel, dan nomor halaman tabel, sesuai dengan yang tercantum di dalam naskah. Penomoran tabel dalam daftar itu sesuai dengan penomoran di dalam naskah yang biasanya menggunakan angka Arab. Untuk contoh halaman daftar tabel dapat dilihat pada bagian lampiran makalah ini.

10. Daftar Gambar
Daftar gambar ditempatkan setelah Daftar Isi Dan Daftar Tabel. Penulisan Daftar Gambar sama seperti halnya penulisan Daftar Tabel dan Daftar Isi. Adapun contoh Daftar Gambar dapat dilihat pada bagian lampiran.

b. Bagian Utama Skripsi
1. Pendahuluan
Secara garis besar Bab Pendahuluan terdiri atas subbab Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah Penelitian, Tujuan Penelitian, Tinjauan Pustaka, Kerangka berpikir dan Langkah-langkah Penelitian. Oleh karena penulis di sini hanya menjelaskan mengenai Teknik Penulisan Proposal dan Skripsi, maka penlis tidak memaparkan bagaimana teknik membuat Latar Belakang Masalah yang baik dan lain sebagainya. Mengenai hal ini dapat pembaca lihat pada buku-buku penuntun pembuatan skripsi yang tentunya jauh lebih lengkap apabila dibandingkan dengan karya ilmiah yang sangat sederhana ini.

2. Data dan Pembahasan
Pada bagian ini disajikan data yang ditemukan dalam penelitian, setelah diolah dan dianalisis. Kemudian dilakukan pembahasan terhadap data itu, yang berpedoman kepada kerangka berpikir yang digunakan. Rincian data yang disajikan merupakan jawaban atas pertanyaan yang diajukan terhadap masalah penelitian yang dimuat dalam Rencana Penelitian. Pembagian Bab dalam bagian ini dapat dilakukan secara luwes. Ia dapat disajikan hanya dalam satu bab saja, misalnya Bab Data dan Pembahasan. Ia pun dapat dipilah menjadi beberapa bab atau lebih dari satu bab.

3. Kesimpulan
Dalam kesimpulan dikemukakan mengenai natijah hasil penafsiran dan pembahasan data yang diperoleh dalam penelitian, sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan dalam perumusan masalah. Ia diinduksi dari hasil pembahasan sebagaimana disajikan dalam bab atau bab-bab sebelumnya. Dengan kesimpulan ini dapat diperoleh informasi baru dan diketahui posisi penelitian, serta implikasi dari penelitian yang dilakukan. Informasi baru itu dapat berupa pendapat baru, pengukuhan terhadap pendapat lama, atau koreksi terhadap pendapat lama.

c. Bagian Belakang (Suplemen Akhir)
Pada bagian belakang skripsi dan laporan penelitian, pada umumnya terdiri atas daftar pustaka atau daftar bacaan, indeks dan lampiran (appendix).
1. Daftar Pustaka
Ada beberapa istilah lain yang maksudnya sama dengan Daftar Pustaka, yaitu Daftar Bacaan, Pustaka Acuan, dan dalam bahasa Inggris disebut Bibliography dan Reference List. Keterangan yang lebih lengkap mengenai Daftar Pustaka dapat dibaca pada bagian Teknik Penulisan Proposal dan Skripsi pada bagian Teknik Penulisan Daftar Pustaka.

2. Indeks
Indeks berisi ungkapan atau istilah penting yang dimuat dalam tulisan. Ia mencakup antara lain istilah teknis dalam bidang ilmu yang melingkupi isi tulisan, singkatan, nama penulis dan nama tempat atau negara. Ia disusun secara alfabetik, yang menunjuk pada nomor halaman tempat ungkapan yang disusun. Dengan indeks ini, pembaca terbantu untuk mencari istilah, singkatan, dan nama penulis yang dianggap penting.

3. Lampiran atau Appendix
Lampiran atau Appendix merupakan tempat untuk menyajikan keterangan atau angka-angka tambahan. Di dalamnya dapat dimuat tentang pengalaman singkat pelaksanaan penelitian, contoh perhitungan statistik, peraturan perundang-undangan yang digunakan, peta, gambar dan lain-lain.
Dari uraian mengenai komponen-komponen skripsi, penulis mengamati terdapat perbedaan mengenai bagian utama skripsi yang menurut penulis sangat menarik untuk penulis kemukakan di sini yaitu mengenai bagian utama skripsi menurut aturan Perguruan Tinggi STAI Auliaurrasyidin Tembilahan, mengingat latar belakang penulis adalah mahasiswa di lembaga tersebut. Adapun bagian utama skripsi menurut peraturan STAI Aulliaurrasyidin Tembilahan adalah:
Bagian utama skripsi terdiri atas lima Bab, dengan rincian sebagai berikut:
Bab I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Alasan Memilih Judul
C. Penegasan Istilah
D. Permasalahan
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian
F. Konsep Operasional
G. Sistematika Penulisan
Bab II : TINJAUAN PUSTAKA
Bab III: METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian
B. Subjek dan Objek Penelitian
C. Populasi dan Sampel
D. Teknik Pengumpulan Data
E. Teknik Analisa Data
Bab IV : PENYAJIAN DATA DAN ANALISA DATA
Bab V : PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran-saran

C. TEKNIK PENULISAN PROPOSAL DAN SKRIPSI

Secara umum, teknik penulisan proposal dan skripsi hampir tidak ada perbedaan, baik dari segi jenis dan ukuran kertas, margin, maupun spasi dan lain sebagainya, keduanya berbeda hanya dari segi komponen-komponen dan tujuannya saja. Berikut ini akan penulis jabarkan mengenai teknik penulisan proposal dan skripsi.
1. Pengetikan Proposal dan Skripsi
a. Jenis dan Ukuran Kertas
Jenis kertas yang direkomendasikan adalah kertas HVS 70 gram dengan ukuran 21 x 29,7 cm (A4), kecuali untuk lembar tertentu seperti kertas grafik, gambar, lembar kuesioner dan lain-lain. Sedangkan untuk sampul luar (kulit luar) menggunakan bahan karton Buffalo atau Linen dengan warna sesuai ketentuan yang berlaku. Untuk menambah bagusnya sebuah skripsi, antara bab yang satu dengan bab yang lain diberi pembatas dengan kertas dorslah (dorslag) yang warnanya sesuai dengan warna sampul luar.
Sedangkan aturan untuk Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Auliaurrasyidin adalah naskah diketik dalam kertas HVS 70 gram ukuran kuarto (A4) atau 21,5 x 29 cm, pengetikan tidak bolak-balik dan dijilid dengan cover atau sampul luar berwarna hijau. Sedangkan untuk proposal, sampul luar tidak dianjurkan memakai karton buffalo atau linen, boleh dijilid dengan kertas jilid dengan warna sesuai dengan yang diinginkan.

b. Tipe Huruf dan Warna
Menurut Prof. Dr. H. E. Mulyasa, penulisan laporan Penelitian Tindakan Kelas menggunakan huruf Roman atau huruf yang setara. Untuk ukuran huruf yang digunakan adalah:
- untuk tajuk ukuran font 12 atau 14
- untuk isi naskah ukuran font 12
- untuk judul cover laporan PTK ukuran pont 16
- untuk nama penulis ukuran font 12
- untuk nama lembaga ukuran font 14.
sedangkan untuk warna huruf yang digunakan adalah warna hitam. Untuk aturan penulisan skripsi di STAI Auliaurrasyidin adalah naskah skripsi diketik dengan huruf standar (courier New) dan ukuran (font size) untuk seluruh naskah skripsi adalah 12, kecuali catatan kaki dengan ukuran 10 dan bagian-bagian sampul depan dan bagian awal skripsi.

c. Pengaturan Kertas (Margin)
Secara umum, pengaturan margin untuk penulisan karya ilmiah baik berupa makalah, proposal, skripsi, tesis, maupun disertasi, merujuk kepada aturan sebagai berikut:
- pinggir atas: 4 cm dari tepi kertas
- pinggir kiri: 4 cm dari tepi kertas
- pinggir bawah: 3 cm dari tepi kertas
- pinggir kanan: 3 cm dari tepi kertas.

d. Jarak Spasi
Spasi yang dipakai adalah dua (2) spasi. pengetikan satu spasi terbatas hanya untuk kutipan langsung panjang, catatan kaki dan daftar pustaka. Pengetikan tiga spasi dipakai antara nomor bab dengan judul bab, antara judul bab dengan baris pertama bab yang bersangkutan dan antara judul subbab dengan baris di atas dan di bawahnya.

e. Sela Ketukan (Indensi)
Indensi yang digunakan adalah satu tabulasi normal. Tabulasi ini dipakai misalnya pada baris pertama alinea baru dan juga digunakan untuk catatan kaki. Indensi ganda (dari tepi kiri dan kanan) digunakan untuk kutipan langsung, sedangkan indensi gantung digunakan untuk dartar pustaka. Sedangkan aturan di STAI Auliaurrasyidin Tembilahan, tiap – tiap baris dari suatu alinea baru dimulai dengan ketukan huruf pertama agak menjorok ke dalam sebanyak tujuh (7) ketukan huruf dari margin (batas kiri).

f. Nomor Halaman
Menurut Joko Subagyo,
“Pada bagian awal skripsi nomor halaman yang digunakan adalah angka romawi kecil (i, ii, iii, dan seterusnya) diletakkan di tengah kertas bagian bawah dengan jarak 1,5 cm dari tepi bawah. Untuk halaman judul, nomor halaman tidak ditulis . Pada bagian utama dan akhir nomor halaman yang digunakan adalah angka Arab (1,2,3 dan seterusnya), ditulis di sebelah pojok kanan atas dengan jarak 3 cm dari tepi kanan dan 1,5 cm dari tepi atas. Kecuali untuk halaman yang terdapat judul Bab, maka nomor halaman ditulis di tengah bagian bawah dengan jarak 1,5 cm dari tepi bawah.”

g. Nomor Bab dan Bagiannya
Untuk memudahkan dalam menulis skripsi, maka bab dan bagian-bagiannya diberi nama seperti di bawah ini:
Nama Pembagian Penulisan
Bab
Anak Bab
Seksi
Anak Seksi
Pasal
Anak Pasal
Ayat
Anak Ayat I,
A,
1,
a,
1),
a),
(1),
(a), II,
B,
2,
b,
2),
b),
(2),
(b), III
C
3
c,
3)
c)
(3)
(c)

Jika masih ada bagian dari anak ayat, dapat menggunakan huruf Romawi kecil. tata letak dari bab dan bagian-bagian di bawahnya ditulis makin kecil makin masuk ke dalam area penulisan.

2. Kutipan
a. Macam-Macam Kutipan
Kutipan-kutipan yang dibuat bisa dalam berbagai bentuk. Bentuk-bentuk penting adalah quotasi, paraphrase, kesimpulan dan praisi. Quotasi adalah mengutip secara langsung tanpa mengubah satu katapun dari kata-kata pengarang. Dalam hal ini harus digunakan koma dua buka dan koma dua tutup. Paraphrase adalah mengutip seluruh isi bacaan dengan menggunakan kata-kata peneliti atau si pembaca sendiri. Ikhtisar atau summary adalah mencatat sinopsis atau kependekan dari keseluruhan pemikiran yang ada dalam bacaan dengan menggunakan kata-kata sendiri. Precis (baca praisi) adalah pemendekan dari isi yang lebih padat dari summary, dengan memilih secara hati-hati material yang akan dipendekkan dengan menggunakan kata-kata sendiri yang tidak lari dari rencana orisinal artikel.
Secara singkat kutipan dapat dibagai menjadi dua macam yaitu:
1. Kutipan langsung, yaitu kutipan yang diambil langsung dari sumber aslinya.
2. Kutipan tidak langsung, merupakan kesimpulan pikiran sendiri dari kutipan-kutipan yang ada.

b. Cara Penulisan Kutipan
Menurut Prof. Dr. H. E. Mulyasa, beberapa aturan yang perlu dijadikan pedoman dalam penulisan kutipan dan sumber kutipan sebagian besar mengacu pada sistem Harvard sebagai berikut:
1. Jika kutipan merupakan kutipan pertama atau dikutip langsung dari penulisnya, maka kutipan tersebut ditulis dengan menggunakan dua tanda petik (“ ”). jika kutipan tersebut diambil dari kutipan, maka cukup menggunakan satu tanda petik (‘ ’).
2. Jika bagian yang dikutip kurang dari empat baris, maka kutipan ditulis dengan menggunakan tanda petik (sesuai dengan ketentuan pada poin pertama) dan penulisannya digabung ke dalam paragraf yang ditulis oleh pengutip dan diketik dengan jarak spasi seuai dengan pengetikan pada bagian naskah lainnya. Contoh: Bagi bangsa Indonesia demokrasi bukanlah suatu yang asing, melainkan sesuatu yang sesuai dengan “watak dan peradaban bangsa indonesia”.
3. Jika bagian yang dikutip lebih dari tiga baris, maka kutipan ditulis tanpa tanda kutip dan diketik dengan jarak satu spasi. Baris pertama diketik mulai pada pukulan ke tujuh dan baris ke dua diketik mulai pukulan keempat.
4. Jika bagian dari yang dikutip ada bagian yang dihilangkan, maka penulisan bagian itu diganti dengan tiga buah titik. Contoh:
Mulyasa mengemukakan bahwa sekolah efektif memiliki karakteristik khusus, seperti: kepala sekolah yang demokratis, guru yang professional, … dan iklim pembelajaran yang menyenangkan.
5. Jika kutipan ditiadakan satu kalimat atau lebih, maka diketik titik-titik berspasi sepanjang satu baris. Titik-titik diberi berjarak dua pukulan tik. Contoh:
Kami datang berurai air mata keliling timbunan tanah merah tempat kau tidur berkepanjangan.
. . . . . . . . . . . . . .
Tidur, tidurlah abadi dibuai tangisan rindu satu keluarga di sawah atau Bumi Siliwangi.
6. Tiap kutipan diberi nomor pada akhir kutipan. Nomor itu diangkat sedikit di atas baris biasa. Nomor itu di ketik pada akhir kutipan, bukan di belakang nama pengarang atau kalimat pengantar kutipan itu.

c. Catatan Kaki (Footnote)
Catatan Kaki (Footnote) adalah catatan pada kaki halaman untuk menyatakan sumber suatu kutipan, pendapat, buah pikiran fakta-fakta atau ikhtisar. Footnote dapat juga berisi komentar mengenai suatu hal yang dikemukakan di dalam teks. Berikut ini akan dijelaskan cara menulis catatan kaki (footnote) berdasarkan sumber-sumber yang dikutip:
1. Buku
Secara berurutan ditulis nama pengarang (tanpa gelar) diikuti tanda baca koma (,) kemudian diberi jarak satu spasi diikuti dengan judul buku diketik miring diikuti dengan tanda koma (,) diberi jarak satu spasi kemudian diikuti dengan edisi atau cetakan (jika ada), selanjutnya kota tempat buku tersebut diterbitkan diikuti dengan titik dua (:), antara kota dengan titik dua tidak diberi jarak spasi kemudian diberi jarak satu spasi diikuti nama penerbit diikuti tanda koma (,) langsung diikuti tahun penerbitan tanpa diberi jarak spasi. Mulai dari unsur kota tempat penerbitan buku hingga tahun penerbitan buku diletakkan dalam kurung. Kemudian diberi jarak satu spasi dan diikuti tulisan halaman yang bisa disingkat dengan hlm. atau hal. diberi jarak satu spasi kemudian ditulis nomor halaman tempat teks yang dikutip dan diakhiri dengan tanda titik. Contoh:
Nur Aini, Teknik Penulisan Skripsi, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2009), hlm. 22.

4. Majalah
Secara berurutan ditulis nama pengarang diikuti tanda koma kemudian tanpa diberi jarak diikuti judul karangan diketik menggunakan tanda petik (“”) dan diketik miring diikuti spasi satu kemudian nama majalah diikuti tanda koma kemudian diikuti tanggal, bulan dan tahun penerbitan diikuti tanda koma kemudian diberi jarak satu spasi diikuti tulisan hlm diikuti tanda titik kemudian diberi jarak satu spasi dan diikuti dengan nomor halaman dan diakhiri dengan tanda titik. Contoh: Nurmailis,”Menjadi Ibu Rumah Tangga yang Kreatif” Kartini, 31 Juni 2010, hlm. 17.

5. Surat Kabar
Secara berurutan ditulis nama surat kabar diketik miring diikuti tanda koma kemudian diberi jarak satu spasi dan diikuti tanggal, bulan dan tahun penerbitan diikuti tanda koma kemudian diberi jarak satu spasi diikuti tulisan hlm diberi jarak satu spasi dan diikuti dengan nomor halaman dan diakhiri dengan tanda titik. Contoh: Pikiran Rakyat, 25 Juni 2010, hlm. 3.

6. Karangan yang Tidak diterbitkan, seperti tesis, disertasi
Secara berurutan ditulis nama pengarang diikuti tanda koma kemudian diberi jarak satu spasi diikuti judul tesis atau disertasi diberi tanda petik diikuti tanda koma kemudian diberi jarak satu spasi dan diikuti keterangan fakultas diikuti tanda koma kemudian diberi jarak satu spasi dan diikuti keterangan tempat perpustakaan diikuti tanda titik kemudian tulisan hlm atau h diikuti tanda titik kemudian diberi jarak satu spasi dan diikuti nomor halaman diakhiri tanda titik. Contoh: Mursit, “Pengaruh Motivasi Orang Tua terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Matematika Kelas V Di Sekolah Dasar Negeri 015 Desa Sungai Luar”, Skripsi Sarjana Pendidikan, Perpustakaan STAI Auliaurrasyidin Tembilahan. Hlm. 34.

7. Interviu (Wawancara)
Contoh: Wawancara dengan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 6 Juli 2010.

8. Karangan dalam Ensiklopedi
Apabila nama pengarang diketahui, contohnya adalah sebagai berikut: E.E. Kellet, “Spinoza”, Encyclopedia of Religions and Ethics XI 1921, hlm. 251
Apabila nama pengarang tidak diketahui contohnya adalah sebagai berikut: “Katalisator”, Ensiklopedia Indonesia I.

Dalam catatan kaki dikenal pula istilah-istilah Ibid., Op. cit dan Loc. Cit. Ketiga istilah tersebut akan penulis jabarkan mengenai penjelasannya serta penggunaannya.
a. Ibid; singkatan dari ibidem yang artinya ”pada tempat yang sama”, istilah ini digunakan apabila suatu kutipan diambil dari sumber yang sama dengan yang langsung mendahuluinya dengan tidak disela oleh sumber lain. Jika halaman yang dikutip sama maka cukup ditulis kata Ibid saja dengan diketik miring, jika halaman berbeda maka diketik kata Ibid diikuti tanda titik kemudian tanda koma kemudian diberi jarak satu spasi diikuti tulisan halaman (hlm atau hal) diikuti tanda titik dan diberi jarak satu spasi kemudian kiikuti nomor halaman dan diakhiri tanda titik. Contoh: Ibid., hlm. 25.
b. Op. Cit; merupakan singkatan dari opere citato yang artinya ”dalam karangan yang telah disebut”. Op.cit digunakan apabila kutipan telah diselingi oleh sumber lain. Cara penulisannya adalah nama pengarang diikuti tanda koma kemudian diberi jarak satu spasi diikuti kata Op. Cit diketik miring diikuti tanda titik kemudian tanda koma dan diberi jarak satu spasi kemudian diikuti tulisan halaman (hlm atau hal atau h) diikuti tanda titik kemudian diberi jarak satu spasi kemudian diikuti nomor halaman dan diakhiri tanda titik. Contoh: Mursit, Op. Cit., hlm. 67.
c. Loc. Cit; merupakan ringkasan dari Loco citato yang artinya ”pada tempat yang telah disebut”. Istilah ini digunakan apabila kutipan yang kita ambil telah diselingi sumber lain tapi pada halaman yang sama pada sumber yang telah diambil. cara penulisannya adalah nama pengarang diikuti tanda titik kemudian diberi jarak satu spasi diikuti tulisan Loc. Cit diikuti tanda titik. Contoh: Mursit, Loc. Cit.

3. Cara Menulis Angka
Menurut Prof. Dr. H. E. Mulyasa, cara penulisan angka dalam suatu kalimat adalah sebagai berikut:
- Jika besarnya angka dalam kalimat tersebut kurang dari 10, maka ditulis dengan kata-kata. Contoh: Dalam dua bulan terakhir ini ia bekerja keras untuk menyelesaikan tugas akhirnya.
- Jika angka tersebut 10 atau lebih, maka ditulis dengan angka arab. Contoh: dari 20 kandidat untuk jabatan Kepala Dinas tersebut lima dinyatakan berhak mengikuti pemilihan tingkat akhir.
- Untuk simbol Kimia, Matematika, Statistika dan sebagainya, penulisan dilakukan apa adanya sesuai dengan aturan dan kelaziman dalam bidang yang bersangkutan.

4. Cara Menulis Singkatan
Penulisan singkatan mengikuti aturan sebagai berikut:
- Untuk penulisan pertama kali suatu nama, harap ditulis lengkap dan kemudian diikuti dengan singkatan resminya dalam kurung. Contoh: Dalam laporan tahunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) disebutkan bahwa PBB merupakan badan perdamaian dunia.
- Untuk penulisan berikutnya singkatan resmi yang ada dalam kurung digunakan tanpa perlu menuliskan kepanjangannya. Contoh: Dalam laporan PBB tersebut dinyatakan pula bahwa bangsa-bangsa di dunia berhak mendapatkan perlindungan.
- Singkatan yang tidak resmi tidak boleh digunakan.
- Untuk simbol Kimia, Matematika, Statistika dan sebagainya, penulisan singkatan dilakukan sesuai dengan aturan dan kelaziman dalam bidang yang bersangkutan.

5. Penggunaan Huruf Besar
- Huruf besar digunakan pada huruf pertama setiap memulai kalimat.
- Huruf besar digunakan pada Huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan hal-hal keagamaan, kitab suci, nama Tuhan, dan kata gantinya. Contoh: Allah, Yang Maha Kuasa, bimbinglah hamba-Mu, dan lain-lain.
- Huruf besar digunakan pula pada huruf pertama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti oleh nama orang. Contoh: Haji Ali Basyah Amin, Nabi Muhammad SAW, dan lain-lain.
- Huruf besar digunakan pada huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang. Contoh: Guberbur Rusli Zainal, Profesor Ibrahim Hasan.
- Huruf besar digunakan pada huruf pertama nama orang, nama bangsa, suku, bahasa, tahun, bulan, hari, hari besar, nama khas geografi, badan resmi, lembaga pemerintahan,dan dokumen resmi. Contoh: Nur Aini, Nurmailis, Mursit, Bangsa Indonesia, Suku Melayu, Selasa, Proklamasi Kemerdekaan, Sungai Indragiri, Undang-Undang Dasar, Madani School, dan lain-lain.
- Huruf besar digunakan pada huruf pertama kata dari nama buku, majalah, surat kabar dan judul karangan kacuali kata partikel seperti di, ke, dari, untuk, dan, yang, yang terletak pada posisi awal. Contoh: Pedoman Bercocok Tanam, Pelajaran Ekonomi untuk Universitas, dan lain-lain.
- Huruf besar digunakan pada huruf pertama nama sapaan dan ringkasan nama gelar. Contoh: Dr. Untuk singkatan Doktor, Ir. Untuk ringkasan Insinyur, Saudara, dan lain-lain.
- Huruf besar digunakan pada huruf pertama bahan produksi pabrik. Contoh: Gelas Pyrex, Piring Millamin, dan lain-lain.
- Huruf besar digunakan pada huruf pertama judul buku, periodikal, judul bab, artikel yang digunakan dalam teks. Contoh: Bab III dari buku Metode Penelitian, Tanam berjudul ”Pemberantasan Hama dan Penyakit”, dan lain-lain.
- Huruf besar digunakan pada huruf pertama nama genera, famili, ordo, kelas, subdivisi dan divisi, baik untuk nama ilmiah tanaman atau hewan. Contoh: Graminae, Oryza, Fasiola, dan lain-lain.

6. Penggunaan Huruf Miring (Italics)
Kalimat, huruf, kata-kata, simbol dan sebagainya yang dicetak dengan huruf miring dinamakan dengan ditulis dengan Italic. Beberapa kata atau huruf sering dinyatakan dalam italic (huruf miring) yaitu:
- Simbol-simbol aljabar, seperti: Ax+By+C=10
- Genera dan spesies seperti: Oryza Sativa, Homo Sapiens dan sebagainya.
- Nama buku, periodikal, pamflet, jika buku, periodikal dan pamflet tersebut muncul dalam teks. Untuk judul artikel atau judul Bab jangan ditulis dalam Italics. Contoh: Kimia Organik karangan Fieser dan Fieser; bab II dari Metode Penelitian menjelaskan tentang ”Peranan dan Jenis-Jenis Penelitian”.
- Kata-kata asing, seperti: ceteris paribus, intra-vitam, dan sebagainya.

7. Gaya Bahasa dalam Laporan Ilmiah
Sifat utama dalam menulis laporan ilmiah adalah jelas dan akurat. Gaya bahasa yang menambah kualitas penulisan dapat dianggap suatu bonus saja dalam penulisan laporan ilmiah. Walaupun demikian, tidak ada salahnya laporan ilmiah ditulis dengan gaya bahasa yang hidup dan menarik supaya pembaca lebih merasa puas dalam membaca laporan tersebut. Berikut ini akan diberikan beberapa check-list dari kesalahan-kesalahan yang sering dibuat dalam menulis laporan ilmiah:
1. Ketidaktepatan
a. membesar-besarkan fakta atau pernyataan.
b. Salah penafsiran karena data yang diperlukan tidak dimasukkan.
c. Kesalahan dalam menghitung, membuat atau menggunakan istilah.
d. Kesimpulan yang ditarik didasarkan pada bukti yang tidak cukup.
e. Penggunaan matematika yang tidak cocok.
f. Mencampurbaurkan antara fakta dan opini.
g. Terdapat kontradiksi dan ketidakkonsistenan dalam pernyataan-pernyataan.

2. penyampaian yang tidak baik
a. Menghilangkan topik yang penting.
b. Kesalahan dalam mengurutkan subbab, bagian dan sebagainya.
c. Memasukkan materi dalam bagian atau paragraf yang salah.
d. Pengembangan topik yang kurang lengkap.
e. Memasukkan hal-hal yang tidak relevan secara terperinci.
f. Gagal dalam usaha untuk membedakan antara yang baru dan yang terkenal.
g. Kurang mementingkan penafsiran dan kesimpulan.

3. kekurangan gaya bahasa
a. Kalimat terlalu panjang (lebih dari 3-4 baris ketikan) ataupun penggunaan tata bahasa yang terlalu sukar.
b. Kalimat yang terlalu pendek.
c. Kalimat yang lemah dengan kata-kata yang tidak ada artinya.
d. Kalimat yang kurang jelas, sehingga perlu dibaca berkali-kali untuk memahaminya.
e. Paragraf yang terlalu panjang (mencapai ¾ halaman) ataupun terlalu pendek (kurang dari 5 baris ketikan).
f. Kalimat yang bertele-tele dan tidak langsung menuju sasaran.
g. Menggunakan kata-kata yang terlalu umum.
h. Pengulangan kata yang tidak perlu dari kata-kata yang sama atau kalimat yang sama.
i. Terlupa menggunakan kata penghubung ataupun kata-kata asing.
j. Terlalu banyak menggunakan istilah teknis yang tidak diperoleh dalam sebuah kalimat.

8. Penulisan Daftar Pustaka
Daftar pustaka merupakan sederetan daftar mengenai buku-buku atau literatur-literatur yang digunakan sebagai bahan penulisan karya ilmiah. Daftar ini biasanya terletak di halaman paling belakang sebuah karya ilmiah sebelum lampiran-lampiran. Pembaca, penguji, maupun penulisnya sendiri dapat mengetahui data-data buku yang dijadikan bahan acuan. Setiap data buku diupayakan selengkap-lengkapnya ditulis dalam daftar pustaka, seperti: penulis, tahun terbit, judul, edisi atau cetakan, penerbit dan kota tempat diterbitkannya buku tersebut. Berikut ini akan dijelaskan mengenai cara penulisan daftar pustaka menurut sumbernya.
a. Sumber Buku
1. jika buku ditulis oleh satu orang
Mursit. (2009). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Gramedia.

2. jika buku ditulis oleh dua atau tiga orang.
Mursit, Nur Aini dan Nurmailis. (2008). Pedoman Penelitian. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

3. jika buku ditulis oleh lebih dari tiga orang.
Mursit, dkk. (2009). Teknik Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Pustaka Setia.


b. Sumber Internet
Nur Aini. (2009). Penuntun ke Jalan Lurus. Jakarta: Gramedia.


9. Teknik Penulisan Tabel dan Gambar
Umumnya laporan ilmiah berisi tabel-tabel dan gambar-gambar berupa grafik dan histogram. Berikut ini akan dijelaskan mengenai teknik penulisan tabel dan gambar.
1. Tabel
Sebuah tabel umumnya terdiri dari:
- nomor dan judul tabel
- stub
- box head
- badan (body).
Untuk penomoran tabel digunakan dua angka latin yang dipisahkan dengan titik. Angka pertama menunjukkan nomor bab di mana tabel berada dan angka ke dua menunjukkan nomor urut tabel pada bab yang bersangkutan. Setiap kata dari nama tabel dimulai dengan huruf besar dan dicetak tebal. Di bawah tabel, penulis wajib mencantumkan sumber data. Contoh tabel dapat dilihat pada bagian lampiran makalah ini.

2. Gambar
Gambar yang digunakan dalam laporan ilmiah adalah:
d. grafik bundar
e. grafik batang
f. grafik garis
g. histogram
h. foto
i. lukisan
Cara penulisan nomor dan judul pada gambar tidak jauh berbeda dengan penulisan tabel, hanya saja pada gambar (grafik), penulisan nomor dan judul dilettakkan di bawah gambar. Sedangkan pada tabel, nomor dan judul tabel diletakkan pada bagian atas tabel tersebut. Contoh gambar (grafik) dapat dilihat pada bagian lampiran makalah ini.

























BAB III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan

Dari uraian mengenai teknik penulisan proposal dan skripsi di atas dapat penulis simpulkan bahwa membuat proposal merupakan suatu kegiatan menyusun rancangan penelitian yang akan dilaksanakan oleh mahasiswa yang akan melakukan suatu penelitian. Dengan penyusunanm sebuah proposal penelitian akan memungkinkan menjadikannya sebagai titik tolak sekaligus bagi peneliti dalam melaksanakan penelitian, karena semua rencana penelitian telah dimuat dalam proposal penelitian. Dalam penulisan proposal dan skripsi pada umumnya tidak terdapat perbedaan, hanya saja berbeda dari segi komponen dan tujuan proposal dan skripsi tersebut. Komponen sebuah proposal terdiri dari tiga bab yaitu Bab I pendahuluan, Bab II Tijauan Pustaka, Bab III Metodologi Penelitian, sedangkan komponen skripsi merupakn lanjutan dari sebuah proposal yaitu komponen proposal yang telah dilakukan perbaikan-perbaikan bersama dosen pembimbing ditambah dengan Bab IV .
Karena proposal dan skripsi merupakan karya tulis ilmiah, maka teknik penulisannyapun haruslah mengacu pada tata cara penulisan ilmiah yang telah penulis jabarkan pada Bab II. Walaupun banyak ahli yang mengemukakan pendapat yang tidak bisa dikatakan seragam, pada dasarnya hal tersebut dapat diterima, tergantung kita bagaimana mengaplikasikannya ketika melakukan penulisan karya ilmiah seperti makalah, proposal, skripsi, tesis maupun disertasi. Maksud penulis di sini adalah dalam mengaplikasikan teknik penulisan karya ilmiah, boleh saja kita mengikuti pendapat salah seorang ahli, yang terpenting adalah dalam mengaplikasikannya hendaklah konsisten mulai dari bagian awal karya ilmiah hingga bagian akhir.

B. Saran
Karena begitu banyak pendapat para ahli mengenai teknik penulisan proposal dan skripsi atau karya ilmiah pada umumnya, maka pada bagian penutup ini penulis menyarankan kepada para pembaca agar lebih banyak membaca, karena tanpa membaca maka kita tidak akan bisa melakukan suatu perbandingan untuk kemudian mengambil kesimpulan untuk dijadikan suatu karya tulis ilmiah seperti yang telah penulis lakukan walaupun mungkin dalam kaca mata dosen pengampu karya ilmiah ini masih jauh dari sempurna. Namun, penulis sangat bersyukur atas selesainya karya ilmiah ini karena hasil kerja sama yang baik dari rekan-rekan satu kelompok yang terdiri dari Nur Aini, Nurmailis dan Mursit. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi kita semua, amiiin.








DAFTAR PUSTAKA

E. Mulyasa. (2009). Praktek Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Gunawan Undang. (2009). Teknik Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Sayagatama.

Hasan Bisri. (2008). Penuntun Penyusunan Rencana Penelitian dan Penulisan Skripsi Bidang Ilmu Agama. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Husein Umar. (2008). Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Joko Subagyo. (2006). Metode Penelitian dalam Teori dan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Moh. Nazir. (2005). Metode Penelitian. Bogor:Ghalia Indonesia.

S. Nasution dan M. Tomas. (2006). Buku Penuntun Membuat Tesis, Skripsi, Disertasi dan Makalah. Jakarta: PT Bumi Aksara.

STAI Auliaurrasyidin. Teknik Penulisan Skripsi Program PAI No. 017/STAI_UR/1997.

Wina Sanjaya. (2009). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Kencana.

Selasa, 06 Juli 2010

Metodologi Penelitian

STUDI PENDAHULUAN, KAJIAN LITERATUR, ASUMSI DAN HIPOTESA

A. STUDI PENDAHULUAN
1. Manfaat Studi Pendahuluan

Prof. Dr. Winarno Surakhmat menyebutkan tentang studi Pendahuluan ini dengan ekploratoris sebagai dua langkah, dan perbedaan antara langkah pertama dengan langkah ke dua ini adalah penemuan dan pengalaman. Memilih masalah adalah mendalami masalah itu, sehingga harus dilakukan secara lebih sistematis dan intensif.
Di dalam melakukan studi pendahuluan, mungkin ditemukan bahwa orang lain sudah berhasil memecahkan masalah yang ia ajukan sehingga tidak ada gunanya ia bersusuah payah menyelidiki. Mungkin ia juga mengetahui hal-hal yang relevan dengan masalahnya sehingga memperkuat keinginannya untuk meneliti karena justru orang lain juga masih mempermasalahkan. Dengan telah mengadakan studi pendahuluan, maka boleh jadi dapat dihemat tenaga dan biaya, di samping bagi calon peneliti tersebut menjadi lebih terbuka matanya dan menjadi lebih jelas permasalahannya.
Manfaat lain dari studi pendahuluan, yaitu peneliti menjadi yakin bahwa penelitiannya perlu dan dapat dilaksanakan. Sebagai pedoman perlu tidaknya atau dapat tidaknya penelitian dilaksanakan, peneliti harus ingat empat hal seperti yang disebutkan di bawah ini :
1. Apakah judul penelitian yang akan dilaksanakan benar-benar sesuai dengan minatnya?
2. Apakah penelitian ini dapat dilaksanakan?
3. Apakah untuk penelitian yang akan dilakukan tersedia faktor pendukung?
4. Apakah hasil penelitian cukup bermanfaat?

Dari uraian di atas, secara singkat dapat dipaparkan manfaat mengadakan studi pendahuluan, yaitu sebagai berikut :
a. Memperjelas masalah
b. Menjajagi kemungkinan-kemungkinan dilanjutkannya penelitian.
c. Mengetahui apa yang sudah dihasilkan orang lain bagi penelitian yang serupa dan bagian mana dari permasalahan yang belum terpecahkan.

2. Cara Mengadakan Studi Pendahuluan
Sumber pengumpulan informasi untuk mengadakan studi pendahuluan ini dapat dilakukan pada tiga objek. Ketiga objek tersebut ada yang berupa tulisan-tulisan dalam kertas (paper), manusia (person), atau tempat (place). Olej karena dinyatakan dalam kata bahasa Inggris, untuk lebih mudah mengingat, disingkat dengan tiga p), yaitu :
1. paper; dapat berupa dokumen, buku-buku, majalah atau bahan tertulis lainnya, baik berupa teori, laporan penelitian atau penemuan sebelumnya (finddngs). Studi ini disebut juga studi kepustakaan atau sudi literatur.
2. Person; bertemu, bertanya dan berkonsultasi dengan para ahli atau manusia sumber.
3. Place; tempat, lokasi atau benda-benda yang terdapat di tempat penelitian.
Dari uraian di atas, secara singkat dapat disimpulkan cara melakukan studi pendahuluan, yaitu:
1. Dengan membaca literatur, baik teori maupun penemuan (hasil penelitian terdahulu).
2. Mendatangi ahli-ahli atau manusia sumber untuk berkonsultasi dan memperoleh informasi.
3. mengadakan peninjauan atau ke tempat lokasi penelitian untuk melihat benda atau peristiwa.


B. KAJIAN LITERATUR
Beberapa sumber, ahli, maupun peneliti memberi istilah kajian literatur dengan sebutan kajian teori, studi literatur atau studi pustaka. Keberadaan kajian literatur dalam suatu laporan penelitian ilmiah (seperti skripsi, tesis dan lain-lainnya) untuk menghindari terjadinya duplikasi penelitian. Kajian literatur hadir dalam laporan penelitian ilmiah yang memerlukan kegiatan kepustakaan atau lapangan membutuhkan pembuktian secara teori dan pengujian data secara empiris. Selanjutnya pada resume ini akan dibahas maksud dan ruang lingkup kajian literatur, cara pengumpulan literatur, serta cara menulis kajian literatur.

1. Maksud dan Ruang Lingkup Kajian Literatur
Kajian literatur (telaah teori) merupakan salah satu kegiatan penelitian yang mencakup; memilih teori-teori hasil penelitian, mengidentifikasi literatur, menganalisis dokumen, serta menerapkan hasil analisis tadi sebagai landasan teori bagi penyelesaian masalah dalam penelitian yang dilakukan. Intinya, kegiatan yang dilakukan adalah mencari teori atau landasan berpikir yang tepat sebagai penguat proses penyelesaian masalah. Teori yang tepat maksudnya adalah teori-teori yang bersesuaian dengan ruang lingkup masalah. Selain itu telaah teori dimaksudkan untuk mengetahui sudah sejauh mana penelitian yang dilakukan tentang masalah yang akan diteliti (bila sudah pernah ada penelitian). Bila belum pernah diteliti, untuk meyakini bahwa penelitian yang akan ditempuh yang memungkinkan untuk dilakukan, karena didukung oleh teori yang ada. Selain itu, telaah teori dapat membantu menentukan metodologi yang tepat sekaligus memberikan interpretasi tentang keberhasilan penelitian yang dilakukan.
Adapun ruang lingkup telaah teori meliputi pengidentifikasian, penjelasan dan penguraian secara sistematis dokumen-dokumen yang mengandung informasi yang berkaitan dengan masalah yang dibahas.

2. Cara Mengumpulkan Literatur
Untuk mengumpulkan literatur dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a. Apabila menemukan referensi yang berkenaan dengan masalah yang diteliti, sebaiknya terbiasa untuk mencatat atau mengumpulkannya.
b. Sumber literatus dapat diperoleh dari majalah, koran, radio, hasil wawancara, jurnal atau hasil penelitian. Literatur dapat pula diperoleh dari internet, kantor atau lembagai khusus yang menyediakan berbagai sumber literatur, seperti negara kita ada Kantor Pusat Statistika dan perpustakaan-perpustakaan.
c. Bila literatur-literatur yang dikumpulkan itu telah memadai, maka untuk menyusun tulisan tentang kajian literatur cukuplah membaca lembaran-lembaran kertas berisi resume, komentar, dan bibliografi yang dibuat sebelumnya.

3. Cara Menulis Kajian Literatur
Kegiatan terakhir dari telaah teori adalah menyusun hasil telaahan terhadap berbagai sumber literatur untuk dituangkan ke dalam bentuk tulisan. Mengingat penulisan laporan penelitian merupakan salah satu bentuk karya tulis ilmiah, maka aturan penulisannya pun mengacu pada tata cara penulisan karya tulis ilmiah.
Berikut ini akan dijelaskan mengenai cara menulis kutipan, yaitu sebagai berikut:
Kutipan-kutipan yang dibuat bisa dalam berbagai bentuk. Bentuk-bentuk penting adalah quotasi, paraphrase, kesimpulan dan praisi. Quotasi adalah mengutip secara langsung tanpa mengubah satu katapun dari kata-kata pengarang. Dalam hal ini harus digunakan koma dua buka dan koma dua tutup. Paraphrase adalah mengutip seluruh isi bacaan dengan menggunakan kata-kata peneliti atau si pembaca sendiri. Ikhtisar atau summary adalah mencatat sinopsis atau kependekan dari keseluruhan pemikiran yang ada dalam bacaan dengan menggunakan kata-kata sendiri. Precis (baca praisi) adalah pemendekan dari isi yang lebih padat dari summary, dengan memilih secara hati-hati material yang akan dipendekkan dengan menggunakan kata-kata sendiri yang tidak lari dari rencana orisinal artikel.
Secara singkat kutipan dapat dibagai menjadi dua macam yaitu:
1. kutipan langsung, yaitu kutipan yang diambil langsung dari sumber aslinya. Jika mengutip pendeka, maka ia dijalin delam teks dengan memberikan tanda petik, sedangkan yang panjang diberi tempat tersendiri dalam satu alinea tanpa adanya tanda petik. Sedangkan menurut E. Mulyasa cara menulis kutipan adalah sebagai berikut:
Jika kutipan merupakan kutipan pertama atau dikutip langsung dari penulisnya, maka kutipan tersebut ditulis dengan menggunakan dua tanda petik (“ ”). Jika bagian yang dikutip kurang dari empat baris, maka kutipan ditulis dengan menggunakan tanda petik dan penulisannya digabung ke dalam paragraf yang ditulis oleh pengutip dan diketik dengan jarak spasi seuai dengan pengetikan pada bagian naskah lainnya.

2. Kutipan tidak langsung, merupakan kesimpulan pikiran sendiri dari kutipan-kutipan yang ada. Ia dibuat tanpa memakai tanda petik. Sedangkan menurut E. Mulyasa, “jika kutipan tersebut diambil dari kutipan, maka cukup menggunakan satu tanda petik (‘ ’)”.

Setelah setelah literatur termuat dalam lembaran-lembaran khusus telah memadai banyaknya, (tentunya dengan ketentuan-ketentuan pengutipan di atas), langkah selanjutnya adalah memilih dan memilah yang relevan dan yang tidak relevan dengan pembahasan permasalahan penelitian. Siapkan sumber aslinya berdasarkan bibliografi yang dibuat pada lembaran tadi, apabila diperlukan.
Kemudian buatlah outline tentang kajian literatur yang akan ditulis. Tuliskan subjudul-subjudulnya berdasarkan pemilahan literatur pada lembaran-lembaran yang dibuat sebelumnya. Urutkan penguraian setiap subjudulnya sehingga yang lebih umum dibahas terlebih dahulu, sedangkan yang paling erat kaitannya dengan masalah diuraikan terakhir untuk menuju pada pernyataan hipotesis.
Jadi, uraian tentang kajian literatur diawali oleh hasil-hasil atau kesimpulan dari penelitian yang dilakukan peneliti lain. Kemudian memaparkan berbagai teori, pendapat atau hasil penelitian yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Pada bagian akhir tinjauan literatur adalah kesimpulan yang memperlihatkan inti telaahan.


C. Asumsi
Asumsi atau anggapan dasar dirumuskan setelah masalah dan tujuan penelitian secara eksplisit. Asumsi adalah titik tolak logika berpikir dalam penelitian yang kebenarannya diterima oleh peneliti. Asumsi menjadi dasar berpijak bagi penyelesaian masalah yang diteliti. Sedangkan menurut Prof. Dr. Winarno Surakhmat ‘anggapan dasar atau postulat adalah sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik’.
Dari contoh kehidupan sehari-hari sering orang berkata bahwa orang yang banyak makan akan menjadi gemuk. Yang ada di balik ucapan itu adalah suatu anggapan bahwa semua yang dimakan orang tentu dapat dicerna, kemudian berubah menjadi otot atau lemak. Inilah sebabnya maka orang menjadi gemuk. Contoh lain adalah dari panjangnya jam belajar dan pemberian waktu istirahat. Jadwal pelajaran di SMA tersebut 45 menit tiap jam pelajaran, dengan susunan tiga jam pelajaran istirahat lagi, dilanjutkan dua jam pelajaran lagi lalu bubar. Penyusunan ini didasarka atas suatu anggapan dasar bahwa: setelah belajar selama kurang lebih 135 menit, anak menjadi lelah.
Seorang peneliti memerlukan serangkaian kegiatan sebelum merumuskan anggapan dasar, seperti banyak membaca buku dan literatur yang relevan, mendengar ceramah, pendapat dan berita yang memberi abstraksi bagi perbendaharaan pengetahuannya. Singkatnya, asumsi yang baik harus didukung oleh studi pustaka untuk menguatkan teori yang mendukung penyelesaian masalah dalam penelitian.


D. Hipotesis
1. Pengertian Hipotesis
Hipotesis adalah suatu rumusan sementara mengenai suatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hal itu dan juga dapat menuntun/ mengarahkan penyelidikan selanjutnya. Sedangkan menurut Moh. Nazir dalam bukunya Metode Penelitian:
“hipotesis tidak lain dari jawaban sementara terhadap masalah penelitian, yang kebenarannya harus diuji secara empiris. Hipotesis adalah pernyataan yang diterima secara sementara sebagai suatu kebenaran sebagaimana adanya, pada saat fenomena dikenal dan merupakan dasar kerja serta penduan dalam verifikasi. Hipotesis adalah keterangan sementar dari hubungan fenomena-fenomena yang kompleks. Hipotesis merupakan ciri dari penelitian kuantitatif. Hipotesis juga merupakan kendali bagi peneliti agar arah penelitian yang dilakukan tidak ke mana-mana, selain dari tujuan penelitian. Hipotesis yang baik adalah hipotesis yang rumusannya mudah dipahami serta memuat paling tidak variabel-variabel permasalahan penelitian, apakah variabel-variabel tersebut dihubungkan, diperbandingkan, ataukah diuji keberpengaruhannya. Selain itu, rumusan hipotesispun hendaknya memiliki nilai prediktif, bersifat konsisten dan harus dapat diuji.
2. Kegunaan Hipotesis
Secara garis besar, kegunaan hipotesis adalah sebagai berikut:
1. Memberikan batasan serta memperkecil jangkauan penelitian dan kerja penelitian.
2. mmmenyiagakan peneliti kepada kondisi fakta dan hubungan antarfakta, yang kadangkala hilang begitu saja dari perhatian peneliti.
3. sebagai alat yang sederhana dalam memfokuskan fakta yang bercerai-berai tanpa koordinasi ke dalam suatu kesatuan penting dan menyeluruh.
4. sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta dan antarfakta.


3. Cara Merumuskan Hipotesis
Bagaimana cara orang merumuskan hipotesis ini tidak ada aturan umumnya. Namun, dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut:
a. hipotesis hendaklah menyatakan pertautan antara dua variabel atau lebih.
b. Hipotesis hendaklah dinyatakan dalam kalimat deklaratif atau pernyataan.
c. Hipotesis hendaklah dirumuskan secara jelas dan padat.
d. Hipotesis hendaklah dapat diuji, artinya hendaklah orang mungkin mengumpulkan data guna menguji kebenaran hipotesis tersebut.

Di bawah ini akan diberikan contoh rumusan hipotesis serta hubungannya dengan judul penelitian dan tujuan penelitian.


Judul Penelitian

Peningkatan Usaha Kerajinan Genteng dalam Rangka Penyerapan Tenaga Kerja dan Penambahan Pendapatan Keluarga Tani di Desa Berjo, Kecamatan Bidean, Daerah Istimewa Jogjakarta.







Tujuan Penelitian

1. memperoleh gambaran sampai seberapa jauh pengangguran musiman dapat diserap oleh kerajinan genteng.

2. mengetahui besarnya sumbangan usaha kerajinan genteng terhadap pendapatan total usaha tani.

3. mengetahui apakah usaha kerajinan genteng mempunyai hubungan yang bersifat komplementer ataukah substitusi terhadap usaha tani padi dalam hal alokasi pencurahan jam tenaga kerja. Hipotesis

1. Usaha kerajinan genteng dapat menyerap tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan total keluarga petani, lebih besar daripada sifatnya yang sekarang.

2. Alokasi pencurahan jam tenaga kerja sektor usaha tani padi tanpa genteng masing-masing dapat diperkecil untuk dialihkan ke usaha kerajinan genteng.



4. Jenis-Jenis Hipotesis
Hipotesis yang isi dan rumusannya bermacam-macam dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, dan tergantung dari pendekatan kita dalam membaginya. Hipotesis dapat kita bagi sebagai berikut:
a. Hipotesis tentang perbedaan vs hubungan.
b. Hipotesis kerja vs hipotesi nul.
c. Hipotesis common sense dan ideal.
4.1. Hipotesis tentang perbedaan vs hubungan.
Hipotesis tentan perbedaan dan hubungan merupakan hipotesis hubungan analitis. Hipotesis ini secara analitis, menyatakan hubungan atau perbedaan saru sifat dengan sifat yang lain.
Hipotesis tentang hubungan adalah pernyataan rekaan yang menyatakan tentang saling berhubungan antara dua variabel atau lebih, yang mendasari teknik korelasi ataupun regresi. Sedangkan hipotesis yang menjelaskan tentang perbedaan adalah adanya ketidaksamaan antarvariabel tertentu disebabkan oleh adanya pengaruh variabel yang berbeda-beda. Hipotesis ini mendasari teknik penelitian yang komparatif.

4.2. Hipotesis kerja dan hipotesis nul
Hipotesis kerja mempunyai rumusan dengan implikasi alternatif di dalamnya. Hipotesis kerja biasanya dirumuskan sebagai berikut:
“Andaikat…, maka ….”
Hipotesis kerja biasanya diuji untuk diterima dan dirumuskan oleh peneliti-peneliti ilmu sosial dalam desain yang noneksperimental. Dengan adanya hipotesis kerja, peneliti dapat bekerja lebih mudah dan terbimbing dalam memilih fenomena yang relevan dalam rangka memecahkan masalah penelitiannya.
Sedangkan hipotesis nul biasanya diuji dengan menggunakan statistika. Dalam hipotesis nul ini, selalu ada implikasi “tidak ada beda”. Perumusannya bisa dalam bentuk:
“tidak ada beda antara… dengan …”.
Hipotesis nul biasanya ditolak. Dengan menolak hipotesis nul maka kita menerima hipotesis pasangan, yang disebut hipotesis alternatif. Hipotesis nul biasanya digunakan dalam penelitian eksperimental.

4.3. Hipotesis tentang ideal vs common sense
Hipotesis common sense biasanya menyatakan hubungan keseragaman kegiatan terapan. Contohnya hipotesis sederhana tentang produksi dan status kepemilikan tanah, dan sebagainya.
Sedangkan hipotesis yang menyatakan hubungan yang kompleks dinamakan hipotesis jenis ideal. Hipotesis ini bertujuan untuk menguji adanya hubungan logis antara keseragaman-keseragaman pengalaman empiris. Hipotesis ideal adalah peningkatan dari hipotesis analitis.








DAFTAR PUSTAKA

E. Mulyasa, (2009), Praktek PTK, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Husein Umar, (2008), Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Moh. Nazir, (2005), Metode Penelitian, Bogor:Ghalia Indonesia.
M. Subana dan Sudrajat, (2005), Dasar-Dasar Penelitian Ilmiah, Bandung: Pustaka Setia.
Suharsimi Arikunto, (2002), Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta.
Sumadi Suryabrata, (2006), Metodologi Penelitian , Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.


















STUDI PENDAHULUAN, KAJIAN LITERATUR, ASUMSI DAN HIPOTESA

A. STUDI PENDAHULUAN
1. Manfaat Studi Pendahuluan

Prof. Dr. Winarno Surakhmat menyebutkan tentang studi Pendahuluan ini dengan ekploratoris sebagai dua langkah, dan perbedaan antara langkah pertama dengan langkah ke dua ini adalah penemuan dan pengalaman. Memilih masalah adalah mendalami masalah itu, sehingga harus dilakukan secara lebih sistematis dan intensif.
Di dalam melakukan studi pendahuluan, mungkin ditemukan bahwa orang lain sudah berhasil memecahkan masalah yang ia ajukan sehingga tidak ada gunanya ia bersusuah payah menyelidiki. Mungkin ia juga mengetahui hal-hal yang relevan dengan masalahnya sehingga memperkuat keinginannya untuk meneliti karena justru orang lain juga masih mempermasalahkan. Dengan telah mengadakan studi pendahuluan, maka boleh jadi dapat dihemat tenaga dan biaya, di samping bagi calon peneliti tersebut menjadi lebih terbuka matanya dan menjadi lebih jelas permasalahannya.
Manfaat lain dari studi pendahuluan, yaitu peneliti menjadi yakin bahwa penelitiannya perlu dan dapat dilaksanakan. Sebagai pedoman perlu tidaknya atau dapat tidaknya penelitian dilaksanakan, peneliti harus ingat empat hal seperti yang disebutkan di bawah ini :
1. Apakah judul penelitian yang akan dilaksanakan benar-benar sesuai dengan minatnya?
2. Apakah penelitian ini dapat dilaksanakan?
3. Apakah untuk penelitian yang akan dilakukan tersedia faktor pendukung?
4. Apakah hasil penelitian cukup bermanfaat?

Dari uraian di atas, secara singkat dapat dipaparkan manfaat mengadakan studi pendahuluan, yaitu sebagai berikut :
a. Memperjelas masalah
b. Menjajagi kemungkinan-kemungkinan dilanjutkannya penelitian.
c. Mengetahui apa yang sudah dihasilkan orang lain bagi penelitian yang serupa dan bagian mana dari permasalahan yang belum terpecahkan.

2. Cara Mengadakan Studi Pendahuluan
Sumber pengumpulan informasi untuk mengadakan studi pendahuluan ini dapat dilakukan pada tiga objek. Ketiga objek tersebut ada yang berupa tulisan-tulisan dalam kertas (paper), manusia (person), atau tempat (place). Olej karena dinyatakan dalam kata bahasa Inggris, untuk lebih mudah mengingat, disingkat dengan tiga p), yaitu :
1. paper; dapat berupa dokumen, buku-buku, majalah atau bahan tertulis lainnya, baik berupa teori, laporan penelitian atau penemuan sebelumnya (finddngs). Studi ini disebut juga studi kepustakaan atau sudi literatur.
2. Person; bertemu, bertanya dan berkonsultasi dengan para ahli atau manusia sumber.
3. Place; tempat, lokasi atau benda-benda yang terdapat di tempat penelitian.
Dari uraian di atas, secara singkat dapat disimpulkan cara melakukan studi pendahuluan, yaitu:
1. Dengan membaca literatur, baik teori maupun penemuan (hasil penelitian terdahulu).
2. Mendatangi ahli-ahli atau manusia sumber untuk berkonsultasi dan memperoleh informasi.
3. mengadakan peninjauan atau ke tempat lokasi penelitian untuk melihat benda atau peristiwa.


B. KAJIAN LITERATUR
Beberapa sumber, ahli, maupun peneliti memberi istilah kajian literatur dengan sebutan kajian teori, studi literatur atau studi pustaka. Keberadaan kajian literatur dalam suatu laporan penelitian ilmiah (seperti skripsi, tesis dan lain-lainnya) untuk menghindari terjadinya duplikasi penelitian. Kajian literatur hadir dalam laporan penelitian ilmiah yang memerlukan kegiatan kepustakaan atau lapangan membutuhkan pembuktian secara teori dan pengujian data secara empiris. Selanjutnya pada resume ini akan dibahas maksud dan ruang lingkup kajian literatur, cara pengumpulan literatur, serta cara menulis kajian literatur.

1. Maksud dan Ruang Lingkup Kajian Literatur
Kajian literatur (telaah teori) merupakan salah satu kegiatan penelitian yang mencakup; memilih teori-teori hasil penelitian, mengidentifikasi literatur, menganalisis dokumen, serta menerapkan hasil analisis tadi sebagai landasan teori bagi penyelesaian masalah dalam penelitian yang dilakukan. Intinya, kegiatan yang dilakukan adalah mencari teori atau landasan berpikir yang tepat sebagai penguat proses penyelesaian masalah. Teori yang tepat maksudnya adalah teori-teori yang bersesuaian dengan ruang lingkup masalah. Selain itu telaah teori dimaksudkan untuk mengetahui sudah sejauh mana penelitian yang dilakukan tentang masalah yang akan diteliti (bila sudah pernah ada penelitian). Bila belum pernah diteliti, untuk meyakini bahwa penelitian yang akan ditempuh yang memungkinkan untuk dilakukan, karena didukung oleh teori yang ada. Selain itu, telaah teori dapat membantu menentukan metodologi yang tepat sekaligus memberikan interpretasi tentang keberhasilan penelitian yang dilakukan.
Adapun ruang lingkup telaah teori meliputi pengidentifikasian, penjelasan dan penguraian secara sistematis dokumen-dokumen yang mengandung informasi yang berkaitan dengan masalah yang dibahas.

2. Cara Mengumpulkan Literatur
Untuk mengumpulkan literatur dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a. Apabila menemukan referensi yang berkenaan dengan masalah yang diteliti, sebaiknya terbiasa untuk mencatat atau mengumpulkannya.
b. Sumber literatus dapat diperoleh dari majalah, koran, radio, hasil wawancara, jurnal atau hasil penelitian. Literatur dapat pula diperoleh dari internet, kantor atau lembagai khusus yang menyediakan berbagai sumber literatur, seperti negara kita ada Kantor Pusat Statistika dan perpustakaan-perpustakaan.
c. Bila literatur-literatur yang dikumpulkan itu telah memadai, maka untuk menyusun tulisan tentang kajian literatur cukuplah membaca lembaran-lembaran kertas berisi resume, komentar, dan bibliografi yang dibuat sebelumnya.

3. Cara Menulis Kajian Literatur
Kegiatan terakhir dari telaah teori adalah menyusun hasil telaahan terhadap berbagai sumber literatur untuk dituangkan ke dalam bentuk tulisan. Mengingat penulisan laporan penelitian merupakan salah satu bentuk karya tulis ilmiah, maka aturan penulisannya pun mengacu pada tata cara penulisan karya tulis ilmiah.
Berikut ini akan dijelaskan mengenai cara menulis kutipan, yaitu sebagai berikut:
Kutipan-kutipan yang dibuat bisa dalam berbagai bentuk. Bentuk-bentuk penting adalah quotasi, paraphrase, kesimpulan dan praisi. Quotasi adalah mengutip secara langsung tanpa mengubah satu katapun dari kata-kata pengarang. Dalam hal ini harus digunakan koma dua buka dan koma dua tutup. Paraphrase adalah mengutip seluruh isi bacaan dengan menggunakan kata-kata peneliti atau si pembaca sendiri. Ikhtisar atau summary adalah mencatat sinopsis atau kependekan dari keseluruhan pemikiran yang ada dalam bacaan dengan menggunakan kata-kata sendiri. Precis (baca praisi) adalah pemendekan dari isi yang lebih padat dari summary, dengan memilih secara hati-hati material yang akan dipendekkan dengan menggunakan kata-kata sendiri yang tidak lari dari rencana orisinal artikel.
Secara singkat kutipan dapat dibagai menjadi dua macam yaitu:
1. kutipan langsung, yaitu kutipan yang diambil langsung dari sumber aslinya. Jika mengutip pendeka, maka ia dijalin delam teks dengan memberikan tanda petik, sedangkan yang panjang diberi tempat tersendiri dalam satu alinea tanpa adanya tanda petik. Sedangkan menurut E. Mulyasa cara menulis kutipan adalah sebagai berikut:
Jika kutipan merupakan kutipan pertama atau dikutip langsung dari penulisnya, maka kutipan tersebut ditulis dengan menggunakan dua tanda petik (“ ”). Jika bagian yang dikutip kurang dari empat baris, maka kutipan ditulis dengan menggunakan tanda petik dan penulisannya digabung ke dalam paragraf yang ditulis oleh pengutip dan diketik dengan jarak spasi seuai dengan pengetikan pada bagian naskah lainnya.

2. Kutipan tidak langsung, merupakan kesimpulan pikiran sendiri dari kutipan-kutipan yang ada. Ia dibuat tanpa memakai tanda petik. Sedangkan menurut E. Mulyasa, “jika kutipan tersebut diambil dari kutipan, maka cukup menggunakan satu tanda petik (‘ ’)”.

Setelah setelah literatur termuat dalam lembaran-lembaran khusus telah memadai banyaknya, (tentunya dengan ketentuan-ketentuan pengutipan di atas), langkah selanjutnya adalah memilih dan memilah yang relevan dan yang tidak relevan dengan pembahasan permasalahan penelitian. Siapkan sumber aslinya berdasarkan bibliografi yang dibuat pada lembaran tadi, apabila diperlukan.
Kemudian buatlah outline tentang kajian literatur yang akan ditulis. Tuliskan subjudul-subjudulnya berdasarkan pemilahan literatur pada lembaran-lembaran yang dibuat sebelumnya. Urutkan penguraian setiap subjudulnya sehingga yang lebih umum dibahas terlebih dahulu, sedangkan yang paling erat kaitannya dengan masalah diuraikan terakhir untuk menuju pada pernyataan hipotesis.
Jadi, uraian tentang kajian literatur diawali oleh hasil-hasil atau kesimpulan dari penelitian yang dilakukan peneliti lain. Kemudian memaparkan berbagai teori, pendapat atau hasil penelitian yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Pada bagian akhir tinjauan literatur adalah kesimpulan yang memperlihatkan inti telaahan.


C. Asumsi
Asumsi atau anggapan dasar dirumuskan setelah masalah dan tujuan penelitian secara eksplisit. Asumsi adalah titik tolak logika berpikir dalam penelitian yang kebenarannya diterima oleh peneliti. Asumsi menjadi dasar berpijak bagi penyelesaian masalah yang diteliti. Sedangkan menurut Prof. Dr. Winarno Surakhmat ‘anggapan dasar atau postulat adalah sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik’.
Dari contoh kehidupan sehari-hari sering orang berkata bahwa orang yang banyak makan akan menjadi gemuk. Yang ada di balik ucapan itu adalah suatu anggapan bahwa semua yang dimakan orang tentu dapat dicerna, kemudian berubah menjadi otot atau lemak. Inilah sebabnya maka orang menjadi gemuk. Contoh lain adalah dari panjangnya jam belajar dan pemberian waktu istirahat. Jadwal pelajaran di SMA tersebut 45 menit tiap jam pelajaran, dengan susunan tiga jam pelajaran istirahat lagi, dilanjutkan dua jam pelajaran lagi lalu bubar. Penyusunan ini didasarka atas suatu anggapan dasar bahwa: setelah belajar selama kurang lebih 135 menit, anak menjadi lelah.
Seorang peneliti memerlukan serangkaian kegiatan sebelum merumuskan anggapan dasar, seperti banyak membaca buku dan literatur yang relevan, mendengar ceramah, pendapat dan berita yang memberi abstraksi bagi perbendaharaan pengetahuannya. Singkatnya, asumsi yang baik harus didukung oleh studi pustaka untuk menguatkan teori yang mendukung penyelesaian masalah dalam penelitian.


D. Hipotesis
1. Pengertian Hipotesis
Hipotesis adalah suatu rumusan sementara mengenai suatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hal itu dan juga dapat menuntun/ mengarahkan penyelidikan selanjutnya. Sedangkan menurut Moh. Nazir dalam bukunya Metode Penelitian:
“hipotesis tidak lain dari jawaban sementara terhadap masalah penelitian, yang kebenarannya harus diuji secara empiris. Hipotesis adalah pernyataan yang diterima secara sementara sebagai suatu kebenaran sebagaimana adanya, pada saat fenomena dikenal dan merupakan dasar kerja serta penduan dalam verifikasi. Hipotesis adalah keterangan sementar dari hubungan fenomena-fenomena yang kompleks. Hipotesis merupakan ciri dari penelitian kuantitatif. Hipotesis juga merupakan kendali bagi peneliti agar arah penelitian yang dilakukan tidak ke mana-mana, selain dari tujuan penelitian. Hipotesis yang baik adalah hipotesis yang rumusannya mudah dipahami serta memuat paling tidak variabel-variabel permasalahan penelitian, apakah variabel-variabel tersebut dihubungkan, diperbandingkan, ataukah diuji keberpengaruhannya. Selain itu, rumusan hipotesispun hendaknya memiliki nilai prediktif, bersifat konsisten dan harus dapat diuji.
2. Kegunaan Hipotesis
Secara garis besar, kegunaan hipotesis adalah sebagai berikut:
1. Memberikan batasan serta memperkecil jangkauan penelitian dan kerja penelitian.
2. mmmenyiagakan peneliti kepada kondisi fakta dan hubungan antarfakta, yang kadangkala hilang begitu saja dari perhatian peneliti.
3. sebagai alat yang sederhana dalam memfokuskan fakta yang bercerai-berai tanpa koordinasi ke dalam suatu kesatuan penting dan menyeluruh.
4. sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta dan antarfakta.


3. Cara Merumuskan Hipotesis
Bagaimana cara orang merumuskan hipotesis ini tidak ada aturan umumnya. Namun, dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut:
a. hipotesis hendaklah menyatakan pertautan antara dua variabel atau lebih.
b. Hipotesis hendaklah dinyatakan dalam kalimat deklaratif atau pernyataan.
c. Hipotesis hendaklah dirumuskan secara jelas dan padat.
d. Hipotesis hendaklah dapat diuji, artinya hendaklah orang mungkin mengumpulkan data guna menguji kebenaran hipotesis tersebut.

Di bawah ini akan diberikan contoh rumusan hipotesis serta hubungannya dengan judul penelitian dan tujuan penelitian.


Judul Penelitian

Peningkatan Usaha Kerajinan Genteng dalam Rangka Penyerapan Tenaga Kerja dan Penambahan Pendapatan Keluarga Tani di Desa Berjo, Kecamatan Bidean, Daerah Istimewa Jogjakarta.







Tujuan Penelitian

1. memperoleh gambaran sampai seberapa jauh pengangguran musiman dapat diserap oleh kerajinan genteng.

2. mengetahui besarnya sumbangan usaha kerajinan genteng terhadap pendapatan total usaha tani.

3. mengetahui apakah usaha kerajinan genteng mempunyai hubungan yang bersifat komplementer ataukah substitusi terhadap usaha tani padi dalam hal alokasi pencurahan jam tenaga kerja. Hipotesis

1. Usaha kerajinan genteng dapat menyerap tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan total keluarga petani, lebih besar daripada sifatnya yang sekarang.

2. Alokasi pencurahan jam tenaga kerja sektor usaha tani padi tanpa genteng masing-masing dapat diperkecil untuk dialihkan ke usaha kerajinan genteng.



4. Jenis-Jenis Hipotesis
Hipotesis yang isi dan rumusannya bermacam-macam dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, dan tergantung dari pendekatan kita dalam membaginya. Hipotesis dapat kita bagi sebagai berikut:
a. Hipotesis tentang perbedaan vs hubungan.
b. Hipotesis kerja vs hipotesi nul.
c. Hipotesis common sense dan ideal.
4.1. Hipotesis tentang perbedaan vs hubungan.
Hipotesis tentan perbedaan dan hubungan merupakan hipotesis hubungan analitis. Hipotesis ini secara analitis, menyatakan hubungan atau perbedaan saru sifat dengan sifat yang lain.
Hipotesis tentang hubungan adalah pernyataan rekaan yang menyatakan tentang saling berhubungan antara dua variabel atau lebih, yang mendasari teknik korelasi ataupun regresi. Sedangkan hipotesis yang menjelaskan tentang perbedaan adalah adanya ketidaksamaan antarvariabel tertentu disebabkan oleh adanya pengaruh variabel yang berbeda-beda. Hipotesis ini mendasari teknik penelitian yang komparatif.

4.2. Hipotesis kerja dan hipotesis nul
Hipotesis kerja mempunyai rumusan dengan implikasi alternatif di dalamnya. Hipotesis kerja biasanya dirumuskan sebagai berikut:
“Andaikat…, maka ….”
Hipotesis kerja biasanya diuji untuk diterima dan dirumuskan oleh peneliti-peneliti ilmu sosial dalam desain yang noneksperimental. Dengan adanya hipotesis kerja, peneliti dapat bekerja lebih mudah dan terbimbing dalam memilih fenomena yang relevan dalam rangka memecahkan masalah penelitiannya.
Sedangkan hipotesis nul biasanya diuji dengan menggunakan statistika. Dalam hipotesis nul ini, selalu ada implikasi “tidak ada beda”. Perumusannya bisa dalam bentuk:
“tidak ada beda antara… dengan …”.
Hipotesis nul biasanya ditolak. Dengan menolak hipotesis nul maka kita menerima hipotesis pasangan, yang disebut hipotesis alternatif. Hipotesis nul biasanya digunakan dalam penelitian eksperimental.

4.3. Hipotesis tentang ideal vs common sense
Hipotesis common sense biasanya menyatakan hubungan keseragaman kegiatan terapan. Contohnya hipotesis sederhana tentang produksi dan status kepemilikan tanah, dan sebagainya.
Sedangkan hipotesis yang menyatakan hubungan yang kompleks dinamakan hipotesis jenis ideal. Hipotesis ini bertujuan untuk menguji adanya hubungan logis antara keseragaman-keseragaman pengalaman empiris. Hipotesis ideal adalah peningkatan dari hipotesis analitis.








DAFTAR PUSTAKA

E. Mulyasa, (2009), Praktek PTK, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Husein Umar, (2008), Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Moh. Nazir, (2005), Metode Penelitian, Bogor:Ghalia Indonesia.
M. Subana dan Sudrajat, (2005), Dasar-Dasar Penelitian Ilmiah, Bandung: Pustaka Setia.
Suharsimi Arikunto, (2002), Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta.
Sumadi Suryabrata, (2006), Metodologi Penelitian , Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.





STUDI PENDAHULUAN, KAJIAN LITERATUR, ASUMSI DAN HIPOTESA

A. STUDI PENDAHULUAN
1. Manfaat Studi Pendahuluan

Prof. Dr. Winarno Surakhmat menyebutkan tentang studi Pendahuluan ini dengan ekploratoris sebagai dua langkah, dan perbedaan antara langkah pertama dengan langkah ke dua ini adalah penemuan dan pengalaman. Memilih masalah adalah mendalami masalah itu, sehingga harus dilakukan secara lebih sistematis dan intensif.
Di dalam melakukan studi pendahuluan, mungkin ditemukan bahwa orang lain sudah berhasil memecahkan masalah yang ia ajukan sehingga tidak ada gunanya ia bersusuah payah menyelidiki. Mungkin ia juga mengetahui hal-hal yang relevan dengan masalahnya sehingga memperkuat keinginannya untuk meneliti karena justru orang lain juga masih mempermasalahkan. Dengan telah mengadakan studi pendahuluan, maka boleh jadi dapat dihemat tenaga dan biaya, di samping bagi calon peneliti tersebut menjadi lebih terbuka matanya dan menjadi lebih jelas permasalahannya.
Manfaat lain dari studi pendahuluan, yaitu peneliti menjadi yakin bahwa penelitiannya perlu dan dapat dilaksanakan. Sebagai pedoman perlu tidaknya atau dapat tidaknya penelitian dilaksanakan, peneliti harus ingat empat hal seperti yang disebutkan di bawah ini :
1. Apakah judul penelitian yang akan dilaksanakan benar-benar sesuai dengan minatnya?
2. Apakah penelitian ini dapat dilaksanakan?
3. Apakah untuk penelitian yang akan dilakukan tersedia faktor pendukung?
4. Apakah hasil penelitian cukup bermanfaat?

Dari uraian di atas, secara singkat dapat dipaparkan manfaat mengadakan studi pendahuluan, yaitu sebagai berikut :
a. Memperjelas masalah
b. Menjajagi kemungkinan-kemungkinan dilanjutkannya penelitian.
c. Mengetahui apa yang sudah dihasilkan orang lain bagi penelitian yang serupa dan bagian mana dari permasalahan yang belum terpecahkan.

2. Cara Mengadakan Studi Pendahuluan
Sumber pengumpulan informasi untuk mengadakan studi pendahuluan ini dapat dilakukan pada tiga objek. Ketiga objek tersebut ada yang berupa tulisan-tulisan dalam kertas (paper), manusia (person), atau tempat (place). Olej karena dinyatakan dalam kata bahasa Inggris, untuk lebih mudah mengingat, disingkat dengan tiga p), yaitu :
1. paper; dapat berupa dokumen, buku-buku, majalah atau bahan tertulis lainnya, baik berupa teori, laporan penelitian atau penemuan sebelumnya (finddngs). Studi ini disebut juga studi kepustakaan atau sudi literatur.
2. Person; bertemu, bertanya dan berkonsultasi dengan para ahli atau manusia sumber.
3. Place; tempat, lokasi atau benda-benda yang terdapat di tempat penelitian.
Dari uraian di atas, secara singkat dapat disimpulkan cara melakukan studi pendahuluan, yaitu:
1. Dengan membaca literatur, baik teori maupun penemuan (hasil penelitian terdahulu).
2. Mendatangi ahli-ahli atau manusia sumber untuk berkonsultasi dan memperoleh informasi.
3. mengadakan peninjauan atau ke tempat lokasi penelitian untuk melihat benda atau peristiwa.


B. KAJIAN LITERATUR
Beberapa sumber, ahli, maupun peneliti memberi istilah kajian literatur dengan sebutan kajian teori, studi literatur atau studi pustaka. Keberadaan kajian literatur dalam suatu laporan penelitian ilmiah (seperti skripsi, tesis dan lain-lainnya) untuk menghindari terjadinya duplikasi penelitian. Kajian literatur hadir dalam laporan penelitian ilmiah yang memerlukan kegiatan kepustakaan atau lapangan membutuhkan pembuktian secara teori dan pengujian data secara empiris. Selanjutnya pada resume ini akan dibahas maksud dan ruang lingkup kajian literatur, cara pengumpulan literatur, serta cara menulis kajian literatur.

1. Maksud dan Ruang Lingkup Kajian Literatur
Kajian literatur (telaah teori) merupakan salah satu kegiatan penelitian yang mencakup; memilih teori-teori hasil penelitian, mengidentifikasi literatur, menganalisis dokumen, serta menerapkan hasil analisis tadi sebagai landasan teori bagi penyelesaian masalah dalam penelitian yang dilakukan. Intinya, kegiatan yang dilakukan adalah mencari teori atau landasan berpikir yang tepat sebagai penguat proses penyelesaian masalah. Teori yang tepat maksudnya adalah teori-teori yang bersesuaian dengan ruang lingkup masalah. Selain itu telaah teori dimaksudkan untuk mengetahui sudah sejauh mana penelitian yang dilakukan tentang masalah yang akan diteliti (bila sudah pernah ada penelitian). Bila belum pernah diteliti, untuk meyakini bahwa penelitian yang akan ditempuh yang memungkinkan untuk dilakukan, karena didukung oleh teori yang ada. Selain itu, telaah teori dapat membantu menentukan metodologi yang tepat sekaligus memberikan interpretasi tentang keberhasilan penelitian yang dilakukan.
Adapun ruang lingkup telaah teori meliputi pengidentifikasian, penjelasan dan penguraian secara sistematis dokumen-dokumen yang mengandung informasi yang berkaitan dengan masalah yang dibahas.

2. Cara Mengumpulkan Literatur
Untuk mengumpulkan literatur dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a. Apabila menemukan referensi yang berkenaan dengan masalah yang diteliti, sebaiknya terbiasa untuk mencatat atau mengumpulkannya.
b. Sumber literatus dapat diperoleh dari majalah, koran, radio, hasil wawancara, jurnal atau hasil penelitian. Literatur dapat pula diperoleh dari internet, kantor atau lembagai khusus yang menyediakan berbagai sumber literatur, seperti negara kita ada Kantor Pusat Statistika dan perpustakaan-perpustakaan.
c. Bila literatur-literatur yang dikumpulkan itu telah memadai, maka untuk menyusun tulisan tentang kajian literatur cukuplah membaca lembaran-lembaran kertas berisi resume, komentar, dan bibliografi yang dibuat sebelumnya.

3. Cara Menulis Kajian Literatur
Kegiatan terakhir dari telaah teori adalah menyusun hasil telaahan terhadap berbagai sumber literatur untuk dituangkan ke dalam bentuk tulisan. Mengingat penulisan laporan penelitian merupakan salah satu bentuk karya tulis ilmiah, maka aturan penulisannya pun mengacu pada tata cara penulisan karya tulis ilmiah.
Berikut ini akan dijelaskan mengenai cara menulis kutipan, yaitu sebagai berikut:
Kutipan-kutipan yang dibuat bisa dalam berbagai bentuk. Bentuk-bentuk penting adalah quotasi, paraphrase, kesimpulan dan praisi. Quotasi adalah mengutip secara langsung tanpa mengubah satu katapun dari kata-kata pengarang. Dalam hal ini harus digunakan koma dua buka dan koma dua tutup. Paraphrase adalah mengutip seluruh isi bacaan dengan menggunakan kata-kata peneliti atau si pembaca sendiri. Ikhtisar atau summary adalah mencatat sinopsis atau kependekan dari keseluruhan pemikiran yang ada dalam bacaan dengan menggunakan kata-kata sendiri. Precis (baca praisi) adalah pemendekan dari isi yang lebih padat dari summary, dengan memilih secara hati-hati material yang akan dipendekkan dengan menggunakan kata-kata sendiri yang tidak lari dari rencana orisinal artikel.
Secara singkat kutipan dapat dibagai menjadi dua macam yaitu:
1. kutipan langsung, yaitu kutipan yang diambil langsung dari sumber aslinya. Jika mengutip pendeka, maka ia dijalin delam teks dengan memberikan tanda petik, sedangkan yang panjang diberi tempat tersendiri dalam satu alinea tanpa adanya tanda petik. Sedangkan menurut E. Mulyasa cara menulis kutipan adalah sebagai berikut:
Jika kutipan merupakan kutipan pertama atau dikutip langsung dari penulisnya, maka kutipan tersebut ditulis dengan menggunakan dua tanda petik (“ ”). Jika bagian yang dikutip kurang dari empat baris, maka kutipan ditulis dengan menggunakan tanda petik dan penulisannya digabung ke dalam paragraf yang ditulis oleh pengutip dan diketik dengan jarak spasi seuai dengan pengetikan pada bagian naskah lainnya.

2. Kutipan tidak langsung, merupakan kesimpulan pikiran sendiri dari kutipan-kutipan yang ada. Ia dibuat tanpa memakai tanda petik. Sedangkan menurut E. Mulyasa, “jika kutipan tersebut diambil dari kutipan, maka cukup menggunakan satu tanda petik (‘ ’)”.

Setelah setelah literatur termuat dalam lembaran-lembaran khusus telah memadai banyaknya, (tentunya dengan ketentuan-ketentuan pengutipan di atas), langkah selanjutnya adalah memilih dan memilah yang relevan dan yang tidak relevan dengan pembahasan permasalahan penelitian. Siapkan sumber aslinya berdasarkan bibliografi yang dibuat pada lembaran tadi, apabila diperlukan.
Kemudian buatlah outline tentang kajian literatur yang akan ditulis. Tuliskan subjudul-subjudulnya berdasarkan pemilahan literatur pada lembaran-lembaran yang dibuat sebelumnya. Urutkan penguraian setiap subjudulnya sehingga yang lebih umum dibahas terlebih dahulu, sedangkan yang paling erat kaitannya dengan masalah diuraikan terakhir untuk menuju pada pernyataan hipotesis.
Jadi, uraian tentang kajian literatur diawali oleh hasil-hasil atau kesimpulan dari penelitian yang dilakukan peneliti lain. Kemudian memaparkan berbagai teori, pendapat atau hasil penelitian yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Pada bagian akhir tinjauan literatur adalah kesimpulan yang memperlihatkan inti telaahan.


C. Asumsi
Asumsi atau anggapan dasar dirumuskan setelah masalah dan tujuan penelitian secara eksplisit. Asumsi adalah titik tolak logika berpikir dalam penelitian yang kebenarannya diterima oleh peneliti. Asumsi menjadi dasar berpijak bagi penyelesaian masalah yang diteliti. Sedangkan menurut Prof. Dr. Winarno Surakhmat ‘anggapan dasar atau postulat adalah sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik’.
Dari contoh kehidupan sehari-hari sering orang berkata bahwa orang yang banyak makan akan menjadi gemuk. Yang ada di balik ucapan itu adalah suatu anggapan bahwa semua yang dimakan orang tentu dapat dicerna, kemudian berubah menjadi otot atau lemak. Inilah sebabnya maka orang menjadi gemuk. Contoh lain adalah dari panjangnya jam belajar dan pemberian waktu istirahat. Jadwal pelajaran di SMA tersebut 45 menit tiap jam pelajaran, dengan susunan tiga jam pelajaran istirahat lagi, dilanjutkan dua jam pelajaran lagi lalu bubar. Penyusunan ini didasarka atas suatu anggapan dasar bahwa: setelah belajar selama kurang lebih 135 menit, anak menjadi lelah.
Seorang peneliti memerlukan serangkaian kegiatan sebelum merumuskan anggapan dasar, seperti banyak membaca buku dan literatur yang relevan, mendengar ceramah, pendapat dan berita yang memberi abstraksi bagi perbendaharaan pengetahuannya. Singkatnya, asumsi yang baik harus didukung oleh studi pustaka untuk menguatkan teori yang mendukung penyelesaian masalah dalam penelitian.


D. Hipotesis
1. Pengertian Hipotesis
Hipotesis adalah suatu rumusan sementara mengenai suatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hal itu dan juga dapat menuntun/ mengarahkan penyelidikan selanjutnya. Sedangkan menurut Moh. Nazir dalam bukunya Metode Penelitian:
“hipotesis tidak lain dari jawaban sementara terhadap masalah penelitian, yang kebenarannya harus diuji secara empiris. Hipotesis adalah pernyataan yang diterima secara sementara sebagai suatu kebenaran sebagaimana adanya, pada saat fenomena dikenal dan merupakan dasar kerja serta penduan dalam verifikasi. Hipotesis adalah keterangan sementar dari hubungan fenomena-fenomena yang kompleks. Hipotesis merupakan ciri dari penelitian kuantitatif. Hipotesis juga merupakan kendali bagi peneliti agar arah penelitian yang dilakukan tidak ke mana-mana, selain dari tujuan penelitian. Hipotesis yang baik adalah hipotesis yang rumusannya mudah dipahami serta memuat paling tidak variabel-variabel permasalahan penelitian, apakah variabel-variabel tersebut dihubungkan, diperbandingkan, ataukah diuji keberpengaruhannya. Selain itu, rumusan hipotesispun hendaknya memiliki nilai prediktif, bersifat konsisten dan harus dapat diuji.
2. Kegunaan Hipotesis
Secara garis besar, kegunaan hipotesis adalah sebagai berikut:
1. Memberikan batasan serta memperkecil jangkauan penelitian dan kerja penelitian.
2. mmmenyiagakan peneliti kepada kondisi fakta dan hubungan antarfakta, yang kadangkala hilang begitu saja dari perhatian peneliti.
3. sebagai alat yang sederhana dalam memfokuskan fakta yang bercerai-berai tanpa koordinasi ke dalam suatu kesatuan penting dan menyeluruh.
4. sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta dan antarfakta.


3. Cara Merumuskan Hipotesis
Bagaimana cara orang merumuskan hipotesis ini tidak ada aturan umumnya. Namun, dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut:
a. hipotesis hendaklah menyatakan pertautan antara dua variabel atau lebih.
b. Hipotesis hendaklah dinyatakan dalam kalimat deklaratif atau pernyataan.
c. Hipotesis hendaklah dirumuskan secara jelas dan padat.
d. Hipotesis hendaklah dapat diuji, artinya hendaklah orang mungkin mengumpulkan data guna menguji kebenaran hipotesis tersebut.

Di bawah ini akan diberikan contoh rumusan hipotesis serta hubungannya dengan judul penelitian dan tujuan penelitian.


Judul Penelitian

Peningkatan Usaha Kerajinan Genteng dalam Rangka Penyerapan Tenaga Kerja dan Penambahan Pendapatan Keluarga Tani di Desa Berjo, Kecamatan Bidean, Daerah Istimewa Jogjakarta.







Tujuan Penelitian

1. memperoleh gambaran sampai seberapa jauh pengangguran musiman dapat diserap oleh kerajinan genteng.

2. mengetahui besarnya sumbangan usaha kerajinan genteng terhadap pendapatan total usaha tani.

3. mengetahui apakah usaha kerajinan genteng mempunyai hubungan yang bersifat komplementer ataukah substitusi terhadap usaha tani padi dalam hal alokasi pencurahan jam tenaga kerja. Hipotesis

1. Usaha kerajinan genteng dapat menyerap tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan total keluarga petani, lebih besar daripada sifatnya yang sekarang.

2. Alokasi pencurahan jam tenaga kerja sektor usaha tani padi tanpa genteng masing-masing dapat diperkecil untuk dialihkan ke usaha kerajinan genteng.



4. Jenis-Jenis Hipotesis
Hipotesis yang isi dan rumusannya bermacam-macam dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, dan tergantung dari pendekatan kita dalam membaginya. Hipotesis dapat kita bagi sebagai berikut:
a. Hipotesis tentang perbedaan vs hubungan.
b. Hipotesis kerja vs hipotesi nul.
c. Hipotesis common sense dan ideal.
4.1. Hipotesis tentang perbedaan vs hubungan.
Hipotesis tentan perbedaan dan hubungan merupakan hipotesis hubungan analitis. Hipotesis ini secara analitis, menyatakan hubungan atau perbedaan saru sifat dengan sifat yang lain.
Hipotesis tentang hubungan adalah pernyataan rekaan yang menyatakan tentang saling berhubungan antara dua variabel atau lebih, yang mendasari teknik korelasi ataupun regresi. Sedangkan hipotesis yang menjelaskan tentang perbedaan adalah adanya ketidaksamaan antarvariabel tertentu disebabkan oleh adanya pengaruh variabel yang berbeda-beda. Hipotesis ini mendasari teknik penelitian yang komparatif.

4.2. Hipotesis kerja dan hipotesis nul
Hipotesis kerja mempunyai rumusan dengan implikasi alternatif di dalamnya. Hipotesis kerja biasanya dirumuskan sebagai berikut:
“Andaikat…, maka ….”
Hipotesis kerja biasanya diuji untuk diterima dan dirumuskan oleh peneliti-peneliti ilmu sosial dalam desain yang noneksperimental. Dengan adanya hipotesis kerja, peneliti dapat bekerja lebih mudah dan terbimbing dalam memilih fenomena yang relevan dalam rangka memecahkan masalah penelitiannya.
Sedangkan hipotesis nul biasanya diuji dengan menggunakan statistika. Dalam hipotesis nul ini, selalu ada implikasi “tidak ada beda”. Perumusannya bisa dalam bentuk:
“tidak ada beda antara… dengan …”.
Hipotesis nul biasanya ditolak. Dengan menolak hipotesis nul maka kita menerima hipotesis pasangan, yang disebut hipotesis alternatif. Hipotesis nul biasanya digunakan dalam penelitian eksperimental.

4.3. Hipotesis tentang ideal vs common sense
Hipotesis common sense biasanya menyatakan hubungan keseragaman kegiatan terapan. Contohnya hipotesis sederhana tentang produksi dan status kepemilikan tanah, dan sebagainya.
Sedangkan hipotesis yang menyatakan hubungan yang kompleks dinamakan hipotesis jenis ideal. Hipotesis ini bertujuan untuk menguji adanya hubungan logis antara keseragaman-keseragaman pengalaman empiris. Hipotesis ideal adalah peningkatan dari hipotesis analitis.








DAFTAR PUSTAKA

E. Mulyasa, (2009), Praktek PTK, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Husein Umar, (2008), Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Moh. Nazir, (2005), Metode Penelitian, Bogor:Ghalia Indonesia.
M. Subana dan Sudrajat, (2005), Dasar-Dasar Penelitian Ilmiah, Bandung: Pustaka Setia.
Suharsimi Arikunto, (2002), Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta.
Sumadi Suryabrata, (2006), Metodologi Penelitian , Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.